Pemeriksaan Fraktur

Pemeriksaan pasien yang dicurigai terdapat fraktur dimulai dari riwayat penyakit, termasuk penyebab cedera, adanya cedera lain, cedera sebelumnya di regio yang terkena, riwayat penyakit dahulu, dan alergi. Pemeriksaan awal termasuk menilai status neurovaskuler, mengamati adanya robekan kulit, dan menilai adanya cedera jaringan lunak. Palpasi pada daerah dengan lembut memungkinkan pemeriksa menunjuk tempat fraktur dan menggunakan radiografi dengan lebih baik. Fraktur dapat terjadi pada dua tempat, atau sendi yang berdekatan dapat mengalami cedera, sehingga penting untuk melakukan palpasi seluruh tulang dan sendi diatas dan dibawah fraktur.

Pemahaman pola cedera yang berhubungan dengan penyebab umum cedera juga dapat mengarahkan pemeriksaan. Misalnya, cedera inversi pada pergelangan kaki dapat menyebabkan fraktur maleoli, metatarsal V proksimal, atau tulang tarsal navicular. Apabila pasien mengalami cedera, sebaiknya dilakukan palpasi semua tulang yang mempunyai kemungkinan fraktur.

Pemeriksaan sendi dapat dibagi menjadi 6 langkah berbeda:

  1. Inspeksi
  2. Palpasi
  3. Pemeriksaan gerakan (movement)
  4. Pemeriksaan khusus
  5. Pemeriksaan radiologi
  6. Merencanakan pemeriksaan lebih lanjut

Langkah 1: Inspeksi

Perhatikan sendi dengan baik, terutama pada poin berikut ini:

  1. Apakah terdapat swelling? Jika ada, apakah difus atau terlokalisir? Jika swelling yang terjadi difus, apakah bengkak tersebut hanya terbatas pada sendi atau meluas? Adanya pembengkakan yang terbatas pada sendi menunjukkan adanya distensi sendi dengan: (a) kelebihan cairan sinovial (efusi) misalnya, karena trauma atau proses inflamasi non-piogenik (misalnya RA atau OA); (b) darah (hemarthrosis), misalnya dari cedera yang baru saja terjadi atau defek koagulasi darah; atau (c) pus (pyarthrosis) misalnya dari infeksi piogenik akut. Pembengkakan yang meluas dari sendi dapat terjadi dengan infeksi mayor pada tungkai, tumor, dan gangguan pada sistem drainase limfatik dan vena. Jika ada bengkak lokal, perhatikan posisi bengkak tersebut dan hubungannya dengan struktur anatomi yang berhubungan, karena hal ini dapat menunjukkan kemungkinan penyebab atau identitas.
  2. Apakah terdapat bruising (memar)? Hal ini dapat menunjukkan adanya kemungkinan trauma, dengan titik gravitasi atau penyebarannya.
  3. Apakah terdapat discolorization, atau edema? Hal ini dapat terjadi sebagai respon lokal terhadap trauma atau infeksi.
  4. Apakah terdapat muscle wasting? Hal ini biasanya terjadi sebagaai hasil dari otot yang terkena yang tidak digunakan, karena nyeri atau ketidakmampuan gerak, atau karena gangguan persarafan pada otot yang terkena.
  5. Apakah terdapat gangguan pada bentuk, postur, atau apakah ada bukti pemendekan? Terdapat banyak kemungkinan penyebab dari abnormalitas (termasuk abnormalitas kongenital, riwayat trauma, gangguan mineralisasi tulang, dan penyakit sendi destruktif); adanya hal-hal tersebut harus diperhatikan, dan digali lagi secara lebih detail dalam pemeriksaan.



Langkah 2: Palpasi

Beberapa sendi harus diperhatikan hal-hal berikut:

  1. Apakah sendi tersebut hangat? Jika demikian, perhatikan apakah peningkatan temperatur yang terjadi difus ataukah lokal, selalu dipikirkan apakah hal tersebut mungkin dapat disebabkan oleh pembebatan. Jika peningkatan suhu terjadi secara difus, hal ini biasanya terjadi bila massa jaringan substansial terlibat, dan biasanya terjadi pada proses inflamasi sendi yang piogenik dan non-piogenik, dan pada kasus dimana terjadi dilatasi anastomosis di proksimal dari blok arterial. Jauh dari sendi, adanya infeksi dan tumor perlu dipikirkan. Peningkatan temperatur secara lokal dapat mengarah kepada proses inflamasi pada struktur yang terkait. Asymmetrical coldness dari tungkai biasanya terjadi jika ada gangguan sirkulasi tungkai, misalnya dari atherosclerosis.


  2. Apakah terdapat nyeri? Jika ada, apakah nyeri tersebut difus atau terlokalisir. Pada nyeri difus, penyebabnya biasanya sama dengan penyebab peningkatan panas lokal. Jika nyeri terlokalisir, perlu dicari tempat yang dirasakan paling nyeri dengan sangat teliti, karena hal ini dapat mengidentifikasi dengan jelas struktur anatomis yang terlibat.

Langkah 3: Movement

Hampir semua kondisi ortopedik berhubungan dengan keterbatasan gerak pada sendi yang terlibat. Hilangnya gerakan sama sekali yang terjadi pada ablasi bedah pada sendi (artrodesis) atau dapat terjadi pada proses patologis lain (seperti infeksi) dimana jaringan fibrous atau tulang mengikat permukaan artikuler bersama-sama (ankylosis fibrous atau tulang): sendi tidak dapat bergerak baik secara pasif maupun aktif. Sering terjadi keterbatasan ROM dimana sendi tidak dapat kembali ke posisi netralnya. Pada tipe ini, biasanya sendi tidak dapat diekstensikan secara penuh, hal ini disebut dengan fixed flexion deformity. Fixed deformities dapat disebabkan, misalnya oleh kontraksi kapsul sendi, otot dan tendon, atau oleh karena interposisi dari jaringan lunak atau tulang diantara permukaan artikuler (misalnya meniskus yang robek, bagian yang hilang). Perkiraan ROM sendi adalah hal yang penting dalam pemeriksaan ortopedik. Untuk mengetahui adanya deviasi dari normal, sisi yang sehat dapat dibandingkan dengan sisi yang sakit.; jika hal ini tidak memungkinkan (misalnya jika keduanya sakit) perlu digunakan perkiraan. Keterbatasan ROM pada sebuah sendi biasanya terjadi karena penyebab mekanis dan merupakan penanda adanya proses patologi. Jika otot yang mengatur sebuah sendi mengalami paralisis, maka perlu diperiksa ROM pasif; nyeri yang terkadang muncul atau faktor lain dapat membatasi ROM aktif yang lebih sempit daripada ROM pasif. Terkadang sendi yang mengalami paralisis parsial maupun total dapat digerakkan dengan melibatkan gravitasi atau gerakan (trick movement), dan konfirmasi paralisis dapat menentukan penyebabnya.


Pada banyak sendi, penting untuk mencari bukti adanya pergerakan dalam sebuah dataran abnormal. Untuk melakukan ini, sendi ditekan dalam sebuah dataran, dan gerakan yang berlebih dinilai melalui inspeksi maupun pemeriksaan radiologi. Permukaan artikuler yang kasar menimbulkan sensasi parutan (krepitus) ketika sendi digerakkan, hal ini dapat diketahui dari palpasi atau auskultasi. Bunyi klik yang datang saat sendi bergerak dapat berasal dari jaringan lunak yang bergerak melewati penonjolan tulang (hampir semua), dari jaringan lunak dalam sendi (misal meniskus yang mengalami displace) atau dari gangguan pada kontur tulang (misalnya karena iregularitas dari permukaan sendi akibat fraktur yang melibatkan sendi).

Kekuatan kontraksi otot (dan kekuatan gerak setiap sendi) harus dinilai dengan baik, dan jika ditemukan penurunan kekuatan otot, dicatat dalam skala Medical Research Council (MRC):

M0    : Tidak ada kontraksi aktif yang dapat dirasakan

M1    : Kontraksi singkat dapat dilihat atau dirasakan dengan palpasi pada otot, namun tidak cukup untuk menimbulkan gerakan sendi.

M2    : Kontraksi sangat lemah, namun masih dapat bergerak namun tidak dapat melawan gravitasi.

M3    : Kontraksi masih sangat lemah, namun dapat bergerak melawan gravitasi (misalnya quadriceps dapat bergerak mengekstensikan lutut pada pasien dengan posisi duduk).

M4    : Kekuatan tidak penuhm namun dapat bergerak melawan gravitasi dan tahanan.

M5    : Kekuatan normal

Kekuatan otot dapat dipengaruhi oleh nyeri, atrofi, penyakit, atau kelainan saraf. Perlu diperhatikan apakah ada hal-hal tersebut yang mengganggu gerakan ekstremitas.

Langkah 4: Pemeriksaan Khusus

Pada kebanyakan sendi terdapat pemeriksaan khusus untuk memeriksa fungsi sendi secara khusus. Pemeriksaan tersebut termasuk diantaranya pemeriksaan integritas ligamen sendi, dan untuk pemeriksaan struktur yang berhubungan dengan sendi (misalnya meniskus pada lutut). Pemeriksaan lain yang dilakukan secara khusus adalah pemeriksaan neurologis yang sesuai (misalnya pemeriksaan kelompok otot tertentu dan pemeriksaan jika ada penurunan sensorik). Jika memungkinkan, hasil MRC dicatat.

S0    : Hilangnya semua sensasi pada area yang dipersarafi oleh nervus yang terkena

S1    : Adanya sensasi nyeri tajam

S2    : Adanya sensasi protektif (sentuhan kulit, nyeri dan panas)

S3    : Adanya sensasi protektif dengan lokalisasi akurat. Sensitivitas (dan hipersensitivitas) terhadap dingin biasanya muncul.

S3+    : Adanya kemampuan mengenali obyek dan tekstur; terdapat sensitivitas dan hipersensitivitas terhadap dingin yang masih muncul namun minimal.

S4    : Sensasi normal

Langkah 5: Pemeriksaan Radiografi

Pemeriksaan radiografi biasanya dilakukan dengan proyeksi anteroposterior (AP) dan lateral. Penting diperhatikan bentuk, ukuran, kontur dari tulang, apakah lebih tebal atau lebih tipis dari normal, lebih pendek atau lebih panjang daripada biasanya, atau melekuk atau menyudut secara abnormal. Pada sendi, apakah komponen tulang dalam susunan yang normal, atau terjadi displace atau melekuk.

Langkah 6: Pemeriksaan Lanjutan

Pemeriksaan fisik dan radiologi dapat memunculkan diagnosis banding yang memerlukan pemeriksaan tambahan untuk menetapkan diagnosis; umumnya digunakan untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan yang biasanya dilakukan meliputi:

  1. Pemeriksaan sedimentasi eritrosit, dan pada kasus tertentu, C-reactive protein.
  2. Hitung darah lengkap dengan hitung jenis
  3. Estimasi faktor rheumatoid
  4. Kalsium, fosfat, dan alkaline fosfatase serum
  5. Ureum
  6. Foto thoraks

Daftar Pustaka

McRae R. 2004. Clinical Orthopaedic Examination Fifth Edition. Philadelphia: Churchill Livingstone.

Categories: Bedah, Orthopedi | Leave a comment

Ruptur Bulbi

Definisi

Ruptur bulbi didefinisikan sebagai putusnya integritas dari membran luar mata; dalam kondisi akut, cedera yang mengenai seluruh lapis kornea atau sklera juga termasuk dalam cedera bulbi terbuka (Doyle, 2009).

Etiologi

  1. Cedera tumpul pada kecelakan kendaraan bermotor, olahraga, atau trauma lain.
  2. Penetrasi atau perforasi bulbi, akibat luka tembak dan tusuk, kecelakaan pada tempat kerja, dan kecelakaan lain yang melibatkan proyektil atau benda tajam.

(Acerra, 2012)

Patofisiologi

Ruptur bulbi dapat terjadi ketika suatu benda tumpul membentur orbita, menekan bulbi pada aksis anterior-posterior yang menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler pada sebuah titik dimana sclera dapat menjadi robek. Ruptur dari trauma tumpul sering terjadi pada tempat dimana sclera mempunyai lapisan paling tipis, pada insersi musculus ekstraokuler, pada limbus, dan pada tempat dimana sebelumnya pernah dilakukan tindakan bedah intraokuler. Benda tajam atau benda tertentu yang membentur bulbi dengan kecepatan tinggi dapat langsung membuat perforasi bulbi. Benda asing berukuran kecil dapat menembus bulbi, dan tertinggal didalam bulbi. Kemungkinan ruptur bulbi perlu dipertimbangkan dan diperhatikan selama pemeriksaan pada semua jenis trauma orbita tumpul dan tembus, juga pada kasus yang melibatkan proyektil berkecepatan tinggi yang kemungkinan menimbulkan penetrasi okuler (Acerra, 2012).

Diagnosis

Gejala Klinis

  1. Nyeri mata yang hebat
  2. Penurunan ketajaman penglihatan
  3. Keluar cairan atau darah dari mata
  4. Riwayat trauma, jatuh, atau adanya benda asing yang masuk kedalam bulbi.

    (Gerstenblith dan Rabinowitz, 2012; Schueler et al., 2011)

Gejala lainnya dari ruptur bulbi:

  1. Nyeri wajah
  2. Pembengkakan wajah, di sekitar mata
  3. Mata yang memar
  4. Penglihatan ganda, ketika melihat keatas
  5. Pupil abnormal
  6. Gejala hifema; perdarahan di dalam mata, darah menutup pupil
  7. Mata merah; perdarahan menutup conjunctiva bulbi

    (Schueler et al., 2011).

Pemeriksaan Fisik

  1. Laserasi seluruh lapisan sklera atau kornea, subconjunctiva hemoragik berat (terutama seluruh conjunctiva bulbi), COA yang dalam atau dangkal jika dibandingkan dengan mata kontralateral, pupil yang runcing atau ireguler, iris TIDs, material lensa maupun vitreous di COA, benda asing atau katarak pada lensa, atau keterbatasan gerakan ekstraokuler. Isi intraiokuler dapat berada di luar bulbi.
  2. Tekanan intraokuler yang rendah (walaupun dapat pula normal atau meningkat, tapi jarang(, iridodyalisis, hifema, ekimosis periorbital, vitreous hemoragik, dislokasi atau subluksasi lensa, dan TON. Commotio retinae, ruptur koroid, dan putusnya retina dapat dijumpai namun sering disamarkan oleh vitreous hemoragik (Gerstenblith dan Rabinowitz, 2012)

Jika ruptur bagian anterior, dapat mudah dikenali dengan COA yang dangkal atau mendatar dan pupil umumnya berpindah kearah lokasi penetrasi. Pembengkakan dan kekeruhan lensa dapat timbul (katarak traumatik), perdarahan pada COA (hifema) dan badan vitreous (vitreous hemoragik) dapat timbul. Hipotonus dari bulbi akan timbul pada ruptur bulbi. Pada ruptur bulbi posterior, hanya tanda tidak langsung yang akan muncul, seperti tekanan intaokuler yang rendah, dan asimetri kedalaman COA (John, 2011).



Pemeriksaan

Langkah pemeriksaan fisik:

  1. Terkadang diagnosis ruptur bulbi jelas. Mata terlihat tidak beraturan dengan jaringan uvea prolaps keluar kearah anterior dari luka skleral atau korneal. Terkadang, benda asing masih dapat ditemukan ketika pasien datang ke IGD.
  2. Ruptur bulbi sering sulit dilihat hanya dengan mata. Lokasi tempat ruptur sering terjadi tidak mudah dilihat, dan adanya cedera superfisial lain dapat menghalangi pemeriksaan segmen posterior. Benda asing yang sangat kecil dapat masuk ke dalam mata melalui luka kecil yang sulit untuk divisualisasikan.
  3. Pemeriksaan pada mata yang cedera sebaiknya dilakukan secara sistematis dengan tujuan mengidentifikasi dan melindungi bulbi yang ruptur.
  4. Penting untuk menghindari tekanan pada bulbi yang ruptur untuk menghindari adanya pengeluaran isi intraokuler dan menghindari kerusakan lebih lanjut.
  5. Pada anak yang sulit dilakukan pemeriksaan, dapat dilakukan dengan sedasi.

Ketajaman Penglihatan dan Gerakan Mata

  1. Visus sebaiknya diperiksa pada kedua mata, baik yang terkena cedera maupun yang tidak. Dapat dipermudah dengan menghitung jari atau hanya dapat mengenali persepsi cahaya.
  2. Gerakan ekstraokuler sebaiknya diperiksa untuk mengetahui apakah terdapat fraktur dasar orbita.

Orbit

  1. Orbita sebaiknya diperiksa, untuk mencari adanya deformitas tulang, benda asing, dan perpindahan bulbi.
  • Fraktur tepi orbita dapat dipalpasi, dan memperkuat dugaan adanya ruptur bulbi
  • Krepitus orbita menandakan adanya subcutaneous emfisema dari fraktur sinus yang berhubungan
  • Benda asing dalam orbita yang menusuk atau melubangi bulbi sebaiknya dibiarkan sampai dilakukan operasi.
  • Ruptur bulbi dapat disertai dengan enoftalmos
  • Retrobulbar hemoragik yang timbul juga dapat menyebabkan eksoftalmos, bahkan ruptur sklera yang tidak terlihat.

    (Acerra, 2012).

Palpebra

  1. Cedera palpebra dan lakrimal sebaiknya diperiksa dengan tujuan mengidentifikasi dan melindungi cedera bulbi dalam yang mungkin terjadi.
  2. Bahkan laserasi kecil pada palpebra dapat memunculkan perforasi bulbi yang mengganggu penglihatan.
  3. Repair palpebra sebaiknya tidak dilakukan hingga telah ditegakkan ruptur bulbi.

Conjunctiva

  1. Laserasi conjunctiva dapat menunjukkan cedera sklera lain yang lebih serius.
  2. Hemoragik conjunctiva berat dapat menandakan ruptur bulbi.

Kornea dan sklera

  1. Laserasi pada semua lapis kornea atau sklera yang terdapat perforasi bulbi terbuka, sebaiknya dilakukan di ruang operasi
  2. Prolaps iris melalui laserasi semua lapis kornea dapat terlihat sebagai warna yang berbeda pada lokasi cedera.
  3. Sklera yang melipat merupakan tanda ruptur dengan ekstrusi isi okuler.
  4. Tekanan intraokuler biasanya rendah, tetapi pengukuran TIO merupakan kontraindikasi, untuk menghindari tekanan pada bulbi.
  5. Luka kornea yang halus mungkin memerlukan pewarna flourescent. Pada laserasi semua lapisan, dengan aliran aquaeous dari COA, aliran yang terpisah jelas dengan pewarna flourescent warna kuning terlihat melalui iluminasi dengan lampu Wood (Seidel test positif)

Pupil

  1. Pupil sebaiknya diperiksa bentuk, ukuran, refleks cahaya, dan defek pupil aferen.
  2. Pupil yang berbentuk meruncing, bentuk air (teardrop) atau bentuk ireguler dapat menandakan adanya ruptur bulbi.

COA

  1. Pemeriksaan slitlamp dapat menunjukkan cedera yang berkaitan, seperti defek transiluminasi iris (red reflex yang dapat dikaburkan oleh vitreous hemoragik); laserasi kornea; prolaps iris; hifema dari kerusakan badan silier, dan cedera lensa, termasuk dislokasi atau subluksasi.
  2. COA yang dangkal dapat menjadi satu-satunya tanda pada ruptur bulbi yang tidak terlihat, yang dihubungkan dengan prognosis yang buruk. Ruptur posterior dapat muncul dengan COA yang lebih dalam karena ekstrusi vitreous humor dari segmen posterior.

Temuan lain

  1. Vitreous hemoragik setelah trauma menandakan adanya robekan retina atau koroid, nervus optik, atau benda asing.
  2. Robekan, edema, ablasio dan hemoragik retina dapat menyertai ruptur bulbi.

(Acerra, 2012).

Terapi

  1. Pemberian antibiotik spektrum luas parenteral untuk mengurangi risiko endoftalmitis.
  2. Pemberian alat pelindung pada mata untuk menghindari trauma dan tekanan lebih lanjut
  3. Jika pasien belum menerima imunisasi tetanus dalam 5 tahun terakhir, perlu diberi imunisasi tetanus.
  4. Tindakan bedah, jika persepsi cahaya pasien nol (0) dan temuan yang ada mengarah pada trauma okuler ekstrim (misalnya ruptur korioretinal ekstensif, posterior, atau multipel dengan kelainan yang mengancam integritas bulbi, enukleasi primer perlu dipertimbangkan.
  5. Pada kasus dengan benda asing yang masih terdapat dalam bulbi, langkah yang umumnya dilakukan adalah penutupan primer dari laserasi korneoskleral. Hal ini dilakukan dengan mengabaikan adanya vitreous hemoragik berat, ablasio retina, atau disrupsi kapsul lensa. Tindakan bedah termasuk penutupan bagian kornea yang ruptur.

(Smiddy, 2002).

Daftar Pustaka

Acerra J.R. 2012. Globe Rupture. http://emedicine.medscape.com/article/798223-overview#a0104

Acerra J.R. 2012. Globe Rupture Clinical Presentation. http://emedicine.medscape.com/article/798223-clinical#a0217

Doyle J. 2009. Patient options after a ruptured globe in Journal of Ophthalmic Medical Technology Vol 5 Number 2 August 2009.

Gerstenblith A.T dan Rabinowitz M.P. 2012. The Wills eye manual: office and emergency room diagnosis and treatment of eye disease sixth edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Pp: 46-7

John T. 2011. The Chicago Eye and Emergency Manual. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publisher. P: 371

Schueler, S.J. Beckett J.H. Gettings D.S. 2011. Ruptured Globe Symptoms. http://www.freemd.com/ruptured-globe/symptoms.htm

Smiddy W.E. 2002. Ruptured Globe in Singh K. Smiddy W.E. Lee A.G. Ophthalmology Review: A Case-Study Approach. New York: Thieme Medical Publishing. Pp: 223-6.


Categories: Mata | Tags: , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.