Ruptur Bulbi

Definisi

Ruptur bulbi didefinisikan sebagai putusnya integritas dari membran luar mata; dalam kondisi akut, cedera yang mengenai seluruh lapis kornea atau sklera juga termasuk dalam cedera bulbi terbuka (Doyle, 2009).

Etiologi

  1. Cedera tumpul pada kecelakan kendaraan bermotor, olahraga, atau trauma lain.
  2. Penetrasi atau perforasi bulbi, akibat luka tembak dan tusuk, kecelakaan pada tempat kerja, dan kecelakaan lain yang melibatkan proyektil atau benda tajam.

(Acerra, 2012)

Patofisiologi

Ruptur bulbi dapat terjadi ketika suatu benda tumpul membentur orbita, menekan bulbi pada aksis anterior-posterior yang menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler pada sebuah titik dimana sclera dapat menjadi robek. Ruptur dari trauma tumpul sering terjadi pada tempat dimana sclera mempunyai lapisan paling tipis, pada insersi musculus ekstraokuler, pada limbus, dan pada tempat dimana sebelumnya pernah dilakukan tindakan bedah intraokuler. Benda tajam atau benda tertentu yang membentur bulbi dengan kecepatan tinggi dapat langsung membuat perforasi bulbi. Benda asing berukuran kecil dapat menembus bulbi, dan tertinggal didalam bulbi. Kemungkinan ruptur bulbi perlu dipertimbangkan dan diperhatikan selama pemeriksaan pada semua jenis trauma orbita tumpul dan tembus, juga pada kasus yang melibatkan proyektil berkecepatan tinggi yang kemungkinan menimbulkan penetrasi okuler (Acerra, 2012).

Diagnosis

Gejala Klinis

  1. Nyeri mata yang hebat
  2. Penurunan ketajaman penglihatan
  3. Keluar cairan atau darah dari mata
  4. Riwayat trauma, jatuh, atau adanya benda asing yang masuk kedalam bulbi.

    (Gerstenblith dan Rabinowitz, 2012; Schueler et al., 2011)

Gejala lainnya dari ruptur bulbi:

  1. Nyeri wajah
  2. Pembengkakan wajah, di sekitar mata
  3. Mata yang memar
  4. Penglihatan ganda, ketika melihat keatas
  5. Pupil abnormal
  6. Gejala hifema; perdarahan di dalam mata, darah menutup pupil
  7. Mata merah; perdarahan menutup conjunctiva bulbi

    (Schueler et al., 2011).

Pemeriksaan Fisik

  1. Laserasi seluruh lapisan sklera atau kornea, subconjunctiva hemoragik berat (terutama seluruh conjunctiva bulbi), COA yang dalam atau dangkal jika dibandingkan dengan mata kontralateral, pupil yang runcing atau ireguler, iris TIDs, material lensa maupun vitreous di COA, benda asing atau katarak pada lensa, atau keterbatasan gerakan ekstraokuler. Isi intraiokuler dapat berada di luar bulbi.
  2. Tekanan intraokuler yang rendah (walaupun dapat pula normal atau meningkat, tapi jarang(, iridodyalisis, hifema, ekimosis periorbital, vitreous hemoragik, dislokasi atau subluksasi lensa, dan TON. Commotio retinae, ruptur koroid, dan putusnya retina dapat dijumpai namun sering disamarkan oleh vitreous hemoragik (Gerstenblith dan Rabinowitz, 2012)

Jika ruptur bagian anterior, dapat mudah dikenali dengan COA yang dangkal atau mendatar dan pupil umumnya berpindah kearah lokasi penetrasi. Pembengkakan dan kekeruhan lensa dapat timbul (katarak traumatik), perdarahan pada COA (hifema) dan badan vitreous (vitreous hemoragik) dapat timbul. Hipotonus dari bulbi akan timbul pada ruptur bulbi. Pada ruptur bulbi posterior, hanya tanda tidak langsung yang akan muncul, seperti tekanan intaokuler yang rendah, dan asimetri kedalaman COA (John, 2011).



Pemeriksaan

Langkah pemeriksaan fisik:

  1. Terkadang diagnosis ruptur bulbi jelas. Mata terlihat tidak beraturan dengan jaringan uvea prolaps keluar kearah anterior dari luka skleral atau korneal. Terkadang, benda asing masih dapat ditemukan ketika pasien datang ke IGD.
  2. Ruptur bulbi sering sulit dilihat hanya dengan mata. Lokasi tempat ruptur sering terjadi tidak mudah dilihat, dan adanya cedera superfisial lain dapat menghalangi pemeriksaan segmen posterior. Benda asing yang sangat kecil dapat masuk ke dalam mata melalui luka kecil yang sulit untuk divisualisasikan.
  3. Pemeriksaan pada mata yang cedera sebaiknya dilakukan secara sistematis dengan tujuan mengidentifikasi dan melindungi bulbi yang ruptur.
  4. Penting untuk menghindari tekanan pada bulbi yang ruptur untuk menghindari adanya pengeluaran isi intraokuler dan menghindari kerusakan lebih lanjut.
  5. Pada anak yang sulit dilakukan pemeriksaan, dapat dilakukan dengan sedasi.

Ketajaman Penglihatan dan Gerakan Mata

  1. Visus sebaiknya diperiksa pada kedua mata, baik yang terkena cedera maupun yang tidak. Dapat dipermudah dengan menghitung jari atau hanya dapat mengenali persepsi cahaya.
  2. Gerakan ekstraokuler sebaiknya diperiksa untuk mengetahui apakah terdapat fraktur dasar orbita.

Orbit

  1. Orbita sebaiknya diperiksa, untuk mencari adanya deformitas tulang, benda asing, dan perpindahan bulbi.
  • Fraktur tepi orbita dapat dipalpasi, dan memperkuat dugaan adanya ruptur bulbi
  • Krepitus orbita menandakan adanya subcutaneous emfisema dari fraktur sinus yang berhubungan
  • Benda asing dalam orbita yang menusuk atau melubangi bulbi sebaiknya dibiarkan sampai dilakukan operasi.
  • Ruptur bulbi dapat disertai dengan enoftalmos
  • Retrobulbar hemoragik yang timbul juga dapat menyebabkan eksoftalmos, bahkan ruptur sklera yang tidak terlihat.

    (Acerra, 2012).

Palpebra

  1. Cedera palpebra dan lakrimal sebaiknya diperiksa dengan tujuan mengidentifikasi dan melindungi cedera bulbi dalam yang mungkin terjadi.
  2. Bahkan laserasi kecil pada palpebra dapat memunculkan perforasi bulbi yang mengganggu penglihatan.
  3. Repair palpebra sebaiknya tidak dilakukan hingga telah ditegakkan ruptur bulbi.

Conjunctiva

  1. Laserasi conjunctiva dapat menunjukkan cedera sklera lain yang lebih serius.
  2. Hemoragik conjunctiva berat dapat menandakan ruptur bulbi.

Kornea dan sklera

  1. Laserasi pada semua lapis kornea atau sklera yang terdapat perforasi bulbi terbuka, sebaiknya dilakukan di ruang operasi
  2. Prolaps iris melalui laserasi semua lapis kornea dapat terlihat sebagai warna yang berbeda pada lokasi cedera.
  3. Sklera yang melipat merupakan tanda ruptur dengan ekstrusi isi okuler.
  4. Tekanan intraokuler biasanya rendah, tetapi pengukuran TIO merupakan kontraindikasi, untuk menghindari tekanan pada bulbi.
  5. Luka kornea yang halus mungkin memerlukan pewarna flourescent. Pada laserasi semua lapisan, dengan aliran aquaeous dari COA, aliran yang terpisah jelas dengan pewarna flourescent warna kuning terlihat melalui iluminasi dengan lampu Wood (Seidel test positif)

Pupil

  1. Pupil sebaiknya diperiksa bentuk, ukuran, refleks cahaya, dan defek pupil aferen.
  2. Pupil yang berbentuk meruncing, bentuk air (teardrop) atau bentuk ireguler dapat menandakan adanya ruptur bulbi.

COA

  1. Pemeriksaan slitlamp dapat menunjukkan cedera yang berkaitan, seperti defek transiluminasi iris (red reflex yang dapat dikaburkan oleh vitreous hemoragik); laserasi kornea; prolaps iris; hifema dari kerusakan badan silier, dan cedera lensa, termasuk dislokasi atau subluksasi.
  2. COA yang dangkal dapat menjadi satu-satunya tanda pada ruptur bulbi yang tidak terlihat, yang dihubungkan dengan prognosis yang buruk. Ruptur posterior dapat muncul dengan COA yang lebih dalam karena ekstrusi vitreous humor dari segmen posterior.

Temuan lain

  1. Vitreous hemoragik setelah trauma menandakan adanya robekan retina atau koroid, nervus optik, atau benda asing.
  2. Robekan, edema, ablasio dan hemoragik retina dapat menyertai ruptur bulbi.

(Acerra, 2012).

Terapi

  1. Pemberian antibiotik spektrum luas parenteral untuk mengurangi risiko endoftalmitis.
  2. Pemberian alat pelindung pada mata untuk menghindari trauma dan tekanan lebih lanjut
  3. Jika pasien belum menerima imunisasi tetanus dalam 5 tahun terakhir, perlu diberi imunisasi tetanus.
  4. Tindakan bedah, jika persepsi cahaya pasien nol (0) dan temuan yang ada mengarah pada trauma okuler ekstrim (misalnya ruptur korioretinal ekstensif, posterior, atau multipel dengan kelainan yang mengancam integritas bulbi, enukleasi primer perlu dipertimbangkan.
  5. Pada kasus dengan benda asing yang masih terdapat dalam bulbi, langkah yang umumnya dilakukan adalah penutupan primer dari laserasi korneoskleral. Hal ini dilakukan dengan mengabaikan adanya vitreous hemoragik berat, ablasio retina, atau disrupsi kapsul lensa. Tindakan bedah termasuk penutupan bagian kornea yang ruptur.

(Smiddy, 2002).

Daftar Pustaka

Acerra J.R. 2012. Globe Rupture. http://emedicine.medscape.com/article/798223-overview#a0104

Acerra J.R. 2012. Globe Rupture Clinical Presentation. http://emedicine.medscape.com/article/798223-clinical#a0217

Doyle J. 2009. Patient options after a ruptured globe in Journal of Ophthalmic Medical Technology Vol 5 Number 2 August 2009.

Gerstenblith A.T dan Rabinowitz M.P. 2012. The Wills eye manual: office and emergency room diagnosis and treatment of eye disease sixth edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Pp: 46-7

John T. 2011. The Chicago Eye and Emergency Manual. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publisher. P: 371

Schueler, S.J. Beckett J.H. Gettings D.S. 2011. Ruptured Globe Symptoms. http://www.freemd.com/ruptured-globe/symptoms.htm

Smiddy W.E. 2002. Ruptured Globe in Singh K. Smiddy W.E. Lee A.G. Ophthalmology Review: A Case-Study Approach. New York: Thieme Medical Publishing. Pp: 223-6.


About these ads
Categories: Mata | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: