Imunologi

Field Lab: Pelaksanaan Program Imunisasi di Puskesmas Polokarto Kabupaten Sukoharjo

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Imunisasi atau vaksinasi adalah prosedur untuk meningkatkan derajat imunitas, memberikan imunitas protektif dengan menginduksi respon memori terhadap patogen tertentu/toksin dengan menggunakan preparat antigen nonvirulen/nontoksik (Baratawidjaja, 2006).

Pemerintah sebenarnya tidak mewajibkan berbagai jenis imunisasi harus dilakukan semua. Hanya lima jenis imunisasi pada anak di bawah satu tahun yang harus dilakukan, yakni BCG (bacillus calmette-guerin), DPT (difteri pertusis tetanus), polio, campak, dan hepatitis B (Depkes RI, 2005).

Pembelajaran Field Lab merupakan salah satu cara membekali mahasiswa, agar pada saatnya nanti mahasiswa telah siap berorientasi penuh pada masyarakat. Mahasiswa memperoleh berbagai tambahan ilmu dengan observasi langsung di lapangan, bukan hanya teoritis di dalam kuliah. Dengan mengikuti pembelajaran Field Lab, mahasiswa dapat membekali diri dengan dasar teori baik untuk pembelajaran formal dalam akademis maupun keterampilan dalam pelaksanaan program imunisasi yang nantinya akan sangat berguna pada saat terjun ke lapangan ditengah-tengah masyarakat.

  1. B. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa diharapkan mampu melakukan imunisasi. Adapun learning outcome pembelajaran ini adalah diharapkan mahasiswa:

  1. Mampu menjelaskan tentang dasar-dasar imunisasi dan imunisasi dasar di Indonesia.
  2. Mampu melakukan menajemen program dan prosedur imunisasi dasar bayi dan balita, anak sekolah, ibu hamil, dan calon pengantin wanita di Puskesmas mulai perencanaan, cold chain vaksin, pelaksanaan (termasuk penanganan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi/ KIPI), pelaporan, dan evaluasi.

BAB II

KEGIATAN YANG DILAKUKAN

  1. A. KEGIATAN HARI PERTAMA

Kegiatan Field Lab hari pertama dilaksanakan pada tanggal 17 April 2009 di Puskesmas Polokarto. Pada kegiatan hari pertama, mahasiswa diberikan pembekalan kegiatan Field Lab oleh instruktur lapangan, dan evaluasi awal tentang hasil pembelajaran dari Buku Rencana Kerja (BRK) yang telah dibuat. Kemudian mahasiswa berdiskusi dengan instruktur, Kepala Puskesmas Polokarto, dr. Bambang Saptono, dan pembimbing, yaitu dr. Arsita, dan Bapak Slamet tentang teknis pelaksanaan imunisasi di lapangan. Selain itu mahasiswa juga diberi pengarahan tentang teknis pengelolaan peralatan vaksin dan rantai vaksin di Puskesmas Polokarto. Selanjutnya mahasiswa melakukan observasi terhadap peralatan vaksin dan rantai vaksin di Puskesmas, berupa lemari es, vaccine carrier, spuit disposable dan non-disposable, termos, cool pack, dan cold box. Dalam penyimpanan di lemari es, vaksin yang sensitif terhadap panas (BCG, Campak, dan Polio) dan sensitif terhadap dingin (DT, TT, DPT, Hepatitis B) dipisahkan letaknya. Pelaksanaan imunisasi di Puskesmas Polokarto menggunakan jenis vaksin combo, yaitu berupa DPT/Hepatitis B. Namun, pihak Puskesmas tetap menyediakan vaksin uniject, untuk persiapan apabila dijumpai pasien yang hanya memerlukan satu jenis imunisasi, misalnya DPT saja atau Hepatitis B saja.

  1. B. KEGIATAN HARI KEDUA

Pada tanggal 24 April 2009 mahasiswa melaksanakan observasi di Puskesmas Pembantu Polokarto. Kegiatan Field Lab hari kedua ini kebetulan bertepatan dengan jadwal imunisasi di Puskesmas Pembantu Polokarto, yaitu setiap hari Jumat pada minggu kedua dan keempat setiap bulannya. Sebelum mengamati proses imunisasi, sambil menunggu kedatangan pasien, mahasiswa terlebih dahulu mengunjungi ruang penyimpanan vaksin. Mahasiswa diberi penjelasan tentang cara membawa vaksin dari lemari es hingga di ruangan imunisasi di Puskesmas atau bila imunisasi dilaksanakan di Posyandu di luar ruangan atau Puskesmas. Setelah pasien mulai berdatangan, mahasiswa segera menuju ruang tempat pelaksanaan imunisasi di Puskesmas Pembantu Polokarto. Ruang pelaksanaan imunisasi di Puskesmas Pembantu Polokarto tidak berdiri sendiri, namun menjadi satu dengan ruang Kesehatan Ibu dan Anak, sehingga tujuan pasien yang datang sangat variatif, ada pasien yang datang untuk berobat, ada juga pasien yang datang untuk tujuan imunisasi. Agar tidak berdesakan, setiap tiga mahasiswa mengobservasi tiga pasien imunisasi. Mahasiswa tidak melakukan sendiri imunisasi terhadap bayi dan balita, tetapi hanya mengamati proses pelaksanaan imunisasi yang dilaksanakan oleh dr. Arsita dan Ibu Hastuti sebagai juru imunisasi. Hal yang pertama dan terpenting apabila ada pasien yang datang dengan tujuan imunisasi adalah mengetahui usia dan jenis imunisasi yang telah diperoleh. Kemudian setelah itu menanyakan kondisi kesehatan bayi atau balita. Apabila bayi dan balita sehat, sehingga sesuai dengan indikasi imunisasi, maka imunisasi dapat segera dilakukan pada bayi dan balita, asalkan sesuai dengan indikasi masing-masing vaksin. Jenis vaksin yang diberikan di Puskesmas Polokarto adalah vaksin jenis combo atau kombinasi. (jadwal pemberian vaksin dilampirkan)

Data bayi dan balita yang diimunisasi

No

Nama Anak

Usia

Vaksin Yang Diberikan

1

Anggita

35 hari

  1. Polio-1 à diberikan sebanyak 2 tetes, oral
  2. BCG à diberikan pada lengan kanan, secara intrakutan

2

Zakky

9 bulan

  1. Polio-4 à diberikan sebanyak 2 tetes, oral
  2. Campak à diberikan pada lengan kiri, secara subkutan dalam

3

Hanum

2 bulan

  1. Polio-2 à diberikan sebanyak 2 tetes, oral
  2. DPT/Hepatitis B-1 à diberikan pada paha secara intramuscular

BAB III

PEMBAHASAN

Dalam pelaksanaan kegiatan Field Lab mahasiswa melakukan observasi terhadap pelaksanaan imunisasi untuk bayi dan balita. Namun karena tidak bertepatan dengan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), dan kebetulan pada saat observasi tidak ada pasien ibu hamil dan calon pengantin wanita, maka imunisasi untuk anak usia sekolah, ibu hamil, dan calon pengantin wanita tidak dipraktikkan. Namun, secara umum, prosedur pelaksanaan imunisasi untuk semua sasaran diatas sama.

Dalam pelaksanaan Field Lab mahasiswa tidak melakukan proses perencanaan sendiri, tetapi mahasiswa diberi penjelasan tentang prosedur perencanaan imunisasi. Untuk mendapatkan data penduduk, Puskesmas Polokarto Sukoharjo tidak menggunakan data BPS, tetapi menggunakan data langsung dari perangkat pemerintahan desa. Hasil ini terbukti lebih akurat, walaupun hanya mempunyai selisih ± 5% bila dibandingkan dengan data BPS, karena mungkin saja ada bayi atau balita yang lahir di wilayah pelayanan Puskesmas Polokarto Sukoharjo, tetapi kemudian tidak lama setelahnya orangtuanya pindah ke wilayah lain, sehingga jumlah data melebihi fakta yang ada. Untuk menghitung jumlah sasaran bayi, cara yang digunakan adalah:

Jumlah Bayi = 2,1  x  Jumlah Penduduk

prosedur perencanaan imunisasi selengkapnya dilampirkan)

Selain itu, untuk mencegah kekurangan vaksin, dalam penghitungan, indeks pemakaian vaksin (IP Vaksin) diturunkan. Misalkan, apabila satu vial atau ampul  sebenarnya memiliki 5 dosis, diturunkan menjadi hanya 4. Jadi, masih ada sisa vaksin sebagai dasar perhitungan untuk mencadangkan vaksin. Setelah IP Vaksin dikurangi, kebutuhan vaksin ditambahkan 10% dari angka yang didapatkan, sehingga rencana kebutuhan vaksin yang dikirimkan kepada pemerintah provinsi atau pusat diusahakan untuk tidak sampai terjadi kekurangan.

Secara praktis, pengelolaan vaksin di Puskesmas memiliki berbagai kendala, terutama keterbatasan dana, baik di Puskesmas Polokarto maupun Puskesmas Pembantu Polokarto. Terdapat 2 unit lemari es di Puskesmas Polokarto, namun 1 unit lemari es sudah tidak berfungsi secara maksimal, karena di dalamnya dapat timbul bunga es. Kendala lain yang belum sesuai dengan teori mungkin adalah letak lemari es yang belum mempunyai ruangan sendiri, yaitu berada di dekat toilet. Sebaiknya, disediakan ruangan khusus untuk menyimpan vaksin, untuk meminimalkan kontaminasi bahan yang dapat merusak vaksin. Sedangkan lemari es di Puskesmas Pembantu Polokarto tidak hanya digunakan untuk menyimpan vaksin, tetapi juga digunakan untuk menyimpan berbagai reagen untuk pemeriksaan laboratorium.

Untuk pengelolaan vaksin di Puskesmas Polokarto, dalam praktiknya apabila dalam keadaan darurat, vaksin yang berada di luar termos atau lemari es masih bisa digunakan, asalkan VVM yang ada pada vial atau ampul masih baik. Namun, sebaiknya bila keadaan tidak mendesak, vaksin tersebut lebih baik tidak digunakan.

Pada pelaksanaan imunisasi di lapangan, jadwal imunisasi ternyata tidak dapat sepenuhnya dilaksanakan tepat waktu. Misalnya, ada pasien yang datang terlambat untuk imunisasi yang seharusnya dilakukan satu bulan sebelumnya. Hal ini bisa dikarenakan bayi sakit pada saat jadwal yang ditetapkan, atau orangtua kurang patuh pada jadwal imunisasi. Apabila dijumpai hal seperti ini, imunisasi yang terlambat tetap diberikan, sesuai dengan usia bayi dan balita yang datang. Yang terpenting adalah imunisasi tidak boleh diberikan apabila usia bayi atau balita belum cukup untuk mendapatkan imunisasi tersebut. Intinya, imunisasi terlambat tidak apa-apa, namun imunisasi tidak boleh diberikan sebelum waktunya.

BAB IV

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Pelaksanaan kegiatan Field Lab dengan topik Program Imunisasi di Puskesmas Polokarto Kabupaten Sukoharjo sudah berlangsung baik dan edukatif. Mahasiswa dapat mencapai seluruh kompetensi dalam tujuan pembelajaran. Mahasiswa juga menemui berbagai permasalahan teknis di lapangan serta pemecahannya yang tidak didapatkan secara teoritis, sehingga mahasiswa telah memiliki tambahan pengalaman sebagai bekal untuk terjun ke masyarakat dalam tahapan selanjutnya.

  1. B. Saran

1.    Sebaiknya penyuluhan untuk pelaksanaan program imunisasi lebih ditingkatkan lagi, agar pasien yang datang untuk imunisasi tidak hanya bayi dan balita, tetapi juga ibu hamil dan calon pengantin wanita.

2.    Sebaiknya apabila memungkinkan Puskesmas mengajukan penambahan anggaran pada tahun mendatang untuk memperbaiki peralatan pengelolaan vaksin ataupun perbaikan ruangan imunisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja, Karnen G. 2006. Imunologi Dasar Edisi ke Tujuh. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Departemen Kesehatan RI. 2005. Jangan Mengabaikan Jadwal Imunisasi!. Akses di http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=983&Itemid=2. tanggal 28 April 2008, 19:46.

Tim Field Lab FK UNS dan UPTD Puskesmas Sibela Surakarta. 2009. Manual Field Lab Program Imunisasi. Surakarta: Field Lab FK UNS.

Categories: Imunologi | Tags: | Leave a comment

Mekanisme Dasar Transplantasi Organ dan Konsekuensinya Terhadap Sistem Imunitas

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. LATAR BELAKANG

Transplantasi adalah memindahkan alat atau jaringan tubuh dari satu orang ke orang lain (Baratawidjaja, 2006). Tranplantasi ginjal telah menjadi terapi pengganti utama pada pasien gagal ginjal tahap akhir hampir di seluruh dunia. Manfaat transplantasi ginjal sudah terbukti lebih baik dibandingkan dengan dialisis terutama dalam hal perbaikan kualitas hidup (Susalit, 2007).

Berikut ini adalah permasalahan dalam skenario 3:

Pak Eko datang ke rumah Pak Andi, mengabarkan bahwa istri Pak Eko sedang dirawat di Rumah Sakit karena gagal ginjal, dan sedang membutuhkan transfusi darah karena kadar hemoglobinnya terus menurun. Pak Andi pernah membaca, bahwa beberapa penyakit dapat ditularkan melalui transfusi, seperti hepatitis, malaria, sifilis, bahkan HIV/AIDS. Dokter berharap istri Pak Eko bisa menjalani operasi cangkok ginjal. Tapi tidak mudah untuk mendapatkan organ donor, karena jika tidak cocok, akan ditolak oleh tubuh penerima.

Daya imun istri Pak Eko terus menurun, baik karena perkembangan penyakit, diet yang ketat, maupun terapi yang harus diterimanya. Ada anak tetangga Pak Andi yang imunisasinya tidak berhasil akibat dikatakan daya imun anak tersebut lemah. Pak Eko meminta Pak Andi untuk mendonorkan darahnya, tetapi Pak Andi ragu-ragu karena dulu pernah terjadi saudaranya saat mendapatkan transfusi tiba-tiba gatal dan sesak nafas. Ada juga kasus ibu guru di sekolah Pak Andi yang pernah mengalami keguguran yang oleh dokter dikatakan karena darah janin dan ibunya tidak cocok.

  1. B. RUMUSAN MASALAH
    1. Gagal ginjal perlu transfusi darah karena kadar Hb terus menurun.
      1. Jenis produk darah yang ditransfusikan pada pasien gagal ginjal.
      2. Mekanisme penurunan Hb akibat gagal ginjal.
    2. Beberapa penyakit bisa ditularkan melalui transfusi.
      1. Prosedur transfusi darah.
      2. Mekanisme penularan penyakit melalui transfusi.
    3. Operasi cangkok ginjal apabila organ donornya tidak cocok akan ditolak oleh tubuh penerima.
      1. Prosedur transplantasi organ.
      2. Tinjauan aspek bioetika dan humaniora transplantasi organ.
      3. Mekanisme penolakan pada transplantasi organ.
    4. Daya imun terus menurun karena perkembangan penyakit, diet yang ketat, dan terapi.
      1. Faktor penyebab imunodefisiensi.
      2. Mekanisme penurunan daya imun akibat perkembangan penyakit, diet yang ketat, dan terapi.
    5. Imunisasi anak tidak berhasil karena daya imun anak yang lemah.
      1. Mekanisme kegagalan imunisasi akibat imunodefisiensi.
    6. Akibat mendapatkan transfusi timbul gatal-gatal dan sesak nafas.
      1. Reaksi dan komplikasi dari transfusi.
      2. Mekanisme reaksi dan komplikasi transfusi.
    7. Keguguran terjadi akibat darah janin dan ibunya tidak cocok.
      1. Mekanisme abortus akibat ketidakcocokan rhesus.
  2. C. TUJUAN PENULISAN
  • Menjelaskan imunohematologi dan transplantasi organ.
  • Menjelaskan gangguan sistem imun (hipersensitivitas dan imunodefisiensi).
  • Menjelaskan aspek etik dan hukum/legal transplantasi.
  1. D. MANFAAT PENULISAN
  • Mahasiswa mampu menjelaskan imunohematologi dan transplantasi organ.
  • Mahasiswa mampu menjelaskan gangguan sistem imun (hipersensitivitas dan imunodefisiensi).
  • Menjelaskan aspek etik dan hukum/legal tranplantasi.
  1. E. HIPOTESIS

Transplantasi organ akan mencapai angka keberhasilan yang semakin tinggi apabila hubungan kekerabatan antara donor dengan resipien semakin dekat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gagal Ginjal

Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal. Pada stadium paling dini penyakit ginjal kronik, terjadi kehilangan daya cadang ginjal (renal reserve), dimana LFG (Laju Filtrasi Glomerulus) masih normal. Kemudian perlahan terjadi penurunan fungsi nefron yang progresif. Sampai pada LFG 60%, masih dalam tahap asimtomatik tetapi sudah terjadi peningkatan kadar urea dan kreatinin serum. Pada LFG 30%, mulai terjadi keluhan pada pasien seperti nokturia, badan lemah, mual, nafsu makan kurang, dan penurunan berat badan. Sampai pada LFG dibawah 30%, pasien memperlihatkan tanda dan gejala uremia yang nyata, seperti anemia, peningkatan tekanan darah, gangguan metabolisme fosfor dan kalsium, pruritus, mual, muntah, dan lainnya. Pasien juga mudah terkena infeksi seperti infeksi saluran kemih, saluran nafas, maupun infeksi saluran cerna. Juga terjadi gangguan keseimbangan air dan elektrolit. Jika LFG dibawah 15% akan terjadi gejala dan komplikasi yang lebih serius, dan pasien sudah memerlukan terapi pengganti ginjal (renal replacement therapy), antara lain dialisis atau transplantasi ginjal. Pada stadium ini sudah dapat dikatakan sampai pada stadium gagal ginjal (Suwitra, 2007).

Pasien dengan gagal ginjal kronis berat hampir selalu mengalami anemia. Penyebab terpenting dari hal ini adalah berkurangnya sekresi eritropoietin ginjal, yang merangsang sumsum tulang untuk memproduksi eritrosit. Jika ginjal mengalami kerusakan berat, ginjal tidak mampu memproduksi eritropoietin dalam jumlah cukup, sehingga mengakibatkan penurunan produksi eritrosit dan menimbulkan anemia (Guyton dan Hall, 2007).

B. Transfusi

Calon donor harus mendapat informed consent serta penjelasan mengenai risiko transfusi. Pengujian yang dilakukan pada darah donor meliputi: penetapan golongan darah berdasarkan ABO dan Rhesus, uji antibodi (dilakukan pada donor yang pernah mendapat transfusi atau hamil), dan uji terhadap penyakit infeksi, yaitu HBsAg, anti HCV, tes serologi untuk sifilis, dan tes antibodi HIV.

Uji cocok silang (crossmatch) terdiri dari serangkaian prosedur yang dilakukan pra-transfusi untuk memastikan seleksi darah yang tepat untuk pasien serta mendeteksi antibodi ireguler dalam serum pasien. Terdapat 2 jenis uji cocok silang. Major Crossmatch Test menguji reaksi antara eritrosit donor dengan serum resipien, sedangkan Minor Crossmatch Test menguji reaksi antara serum donor dengan eristrosit resipien. Crossmatch mayor dilakukan pada tes pratransfusi, sedangkan minor dilakukan sebagai tes rutin pada darah donor setelah pengumpulan darah.

Reaksi transfusi yang tidak diharapkan ditemukan pada 6,6% pasien yang menjalani transfusi.

Demam. Dapat disebabkan oleh antibodi leukosit, antibodi trombosit, atau senyawa pirogen. Untuk menghindarinya dapat dilakukan uji pencocokan leukosit antara donor dan resipien.

Reaksi Alergi. Renjatan anafilaktik timbul pada 1 dari 20.000 transfusi. Reaksi alergi ringan yang menyerupai urtikaria timbul pada 3% transfusi. Reaksi anafilaktik yang berat terjadi akibat interaksi antara IgA pada darah donor dengan anti-IgA spesifik pada plasma resipien.

Reaksi hemolitik. Terjadi akibat destruksi eritrosit akibat inkompatibilitas darah. Reaksi hemolitik juga dapat terjadi karena transfusi eritrosit yang rusak, injeksi air ke dalam sirkulasi, transfusi darah yang lisis, pemanasan berlebihan, darah beku, darah yang terinfeksi, transfusi darah dengan tekanan tinggi. Jika seseorang ditransfusi dengan darah atau janin memiliki struktur antigen eritrosit yang berbeda dengan donor atau ibunya, maka dapat terbentuk antibodi pada tubuh resipien darah atau janin tersebut, sehingga antibodi menyerang dan merusak eritrosit.

Penularan penyakit. Virus, seperti HIV, hepatitis B, dan hepatitis C serta bakteri dapat mengkontaminasi eritrosit dan trombosit sehingga dapat menyebabkan infeksi dan sepsis setelah transfusi.

Kontaminasi. Risiko terjadinya kontaminasi berhubungan langsung dengan lamanya penyimpanan.

Cedera paru akut (TRALI). Berupa manifestasi hipoksemia akut dan cedera pulmoner bilateral yang terjadi 6 jam setelah transfusi. Manifestasi klinis yang ditemui adalah dispnea, takipnea, demam, takikardi, hipo-/hipertensi, dan leukemia akut sementara. Mekanisme yang mungkin menjadi penyebab salah satunya adalah reaksi antara neutrofil resipien dengan antibodi donor yang mempunyai HLA atau antigen neutrofil spesifik; akibatnya terjadi peningkatan permeabilitas kapiler pada sirkulasi mikro di paru (Djoerban, 2007).

C. Imunodefisiensi

Defisiensi imun dapat primer dengan dasar genetik yang relatif jarang dan sekunder yang lebih sering terjadi dan ditimbulkan oleh berbagai faktor sesudah lahir. Penyakit defisiensi imun tersering mengenai limfosit, komplemen dan fagosit.

Defisiensi imun juga dapat dibagi menjadi defisiensi imun nonspesifik (defisiensi komplemen, interferon dan lisozim, sel NK, dan sistem fagosit) dan defisiensi imun spesifik (defisiensi kongenital atau primer, defisiensi imun spesifik fisiologik, dan defisiensi imun didapat atau sekunder).

Defisiensi komplemen dan interferon serta lisozim didapat disebabkan oleh depresi sintesis, misalnya sirosis hati dan malnutrisi protein/kalori. Sedangkan defisiensi sel NK didapat terjadi akibat imunosupresi atau radiasi. Defisiensi sistem fagosit ditekankan terhadap sel PMN, yang dapat berupa defisiensi kuantitatif dan kualitatif. Defisiensi kuantitatif berupa neutropenia atau granulositopenia dapat disebabkan oleh penurunan produksi atau peningkatan destruksi. Defisiensi kuantitatif adalah berupa penurunan fungsi fagosit seperti kemotaksis, menelan/memakan, dan membunuh mikroba intraseluler.

Defisiensi imun spesifik fisiologik dapat berupa kehamilan, usia tahun pertama, dan usia lanjut. Sedangkan defisiensi imun didapat atau sekunder merupakan defisiensi sekunder yang paling sering ditemukan. Defisiensi tersebut mengenai fungsi fagosit dan limfosit akibat infeksi, malnutrisi, terapi sitotoksik, dan lainnya. (tabel selengkapnya dilampirkan)

Malnutrisi. Malnutrisi dan defisiensi besi dapat menimbulkan depresi sistem imun terutama pada imunitas seluler. Nutrisi buruk untuk jangka waktu lama dapat menghilangkan sel lemak yang biasanya melepas hormone leptin yang merangsang sistem imun.

Infeksi. Campak dan virus lain dapat menginfeksi tubuh dan menginduksi supresi DTH sementara. Jumlah sel T dalam sirkulasi dan respons limfosit terhadap antigen dan mitogen menurun.

Obat, trauma, tindakan kateterisasi dan bedah. Antibiotik dapat menekan sistem imun. Obat sitotoksik dapat mengganggu kemotaksis neutrofil. Sedangkan steroid dalam dosis tinggi dapat menekan fungsi sel T dan inflamasi.

Penyinaran. Penyinaran dosis tinggi menekan seluruh jaringan limfoid, sedangkan dosis rendah dapat menekan aktivitas sel Ts secara selektif.

Kehilangan immunoglobulin. Defisiensi Ig dapat terjadi akibat kehilangan protein yang berlebihan seperti pada penyakit ginjal dan diare. Pada sindrom nefrotik ditemukan kehilangan protein dan penurunan IgG dan IgA yang berarti, sedangkan IgM normal. (Baratawidjaja, 2006).

D. Imunohematologi dan Transplantasi Organ

Sebelum transplantasi organ dilakukan, beberapa aspek yang perlu ditinjau adalah aspek etik, hukum, dan agama (Etikomedikolegal transplantasi).

Menurut segi hukum, tranplantasi organ, jaringan dan sel tubuh dipandang sebagai tindakan mulia dalam upaya menyehatkan dan mensejahterakan manusia, walaupun ini tindakan ini melawan hukum pidana yaitu tindak pidana penganiayaan. Tetapi karena adanya alasan pengecualian hukuman, atau paham melawan hukum secara material, maka perbuatan tersebut tidak lagi diancam pidana, dan dapat dibenarkan (Hanafiah dan Amir, 1999).

Menurut segi etik, transplantasi merupakan upaya terakhir untuk menolong seorang pasien dengan kegagalan fungsi salah satu organ tubuhnya. Tindakan ini wajib dilakukan apabila ada indikasi, berdasarkan beberapa pasal dalam KODEKI yaitu pasal 2, pasal 7D, dan pasal 11 (Hanafiah dan Amir, 1999).

Dari segi agama (Islam), transplantasi organ diperbolehkan, selama tidak membahayakan donor dan tidak ada tujuan komersialisasi (jual-beli organ) (Anonim, 2009).

Permasalahan yang timbul dalam transplantasi adalah penolakan alat atau jaringan tubuh donor oleh resipien.

Penolakan dibagi menjadi 2:

  1. Penolakan pertama dan kedua

Sel Th dan Tc resipien mengenal antigen MHC alogenik, sehingga memacu imunitas humoral dan membunuh sel sasaran. Makrofag juga dikerahkan ke tempat tandur atas pengaruh limfokin yang dihasilkan oleh Th.

  1. Penolakan  hiperakut, akut, dan kronik
    1. Penolakan hiperakut: tejadi dalam beberapa menit sampai jam setelah transplantasi. Disebabkan oleh destruksi oleh antibodi yang sudah ada pada resipien akibat transplantasi/transfusi darah atau kehamilan sebelumnya. Antibodi mengaktifkan komplemen yang menimbulkan edem dan perdarahan interstitial dalam jaringan tandur sehingga mengurangi aliran darah ke seluruh jaringan.
    2. Penolakan akut: pada resipien yang sebelumnya tidak disensitasi terhadap tandur. Terjadi sesudah beberapa minggu sampai bulan setelah tandur tidak berfungsi sama sekali dalam waktu 5-21 hari.
    3. Penolakan kronik: hilangnya fungsi organ yang dicangkokkan secara perlahan beberapa bulan setelah berfungsi normal. Disebabkan oleh sensitivitas yang timbul terhadap antigen tandur karena timbulnya intoleransi terhadap sel T, terkadang juga diakibatkan sesudah pemberian imunosupresan dihentikan. (Baratawidjaja, 2006).

Faktor yang berperan pada keberhasilan transplantasi ginjal, yaitu faktor yang berkaitan dengan donor dan resipien, faktor imunologi, faktor penanganan pra dan peri-operatif, serta faktor pasca-operatif.

Faktor terkait donor. Transplantasi ginjal dapat memanfaatkan ginjal donor hidup yang sehat atau ginjal donor jenazah. Pemeriksaan persiapan calon donor hidup dilakukan secara bertahap (tabel dilampirkan). Dengan prosedur penjaringan dan evaluasi, dipastikan bahwa donor ikhlas, dalam keadaan sehat dan mampu menjalani operasi nefrektomi, serta mampu hidup normal dengan satu ginjal setelah melakukan donasi, dan donor tidak boleh mengidap penyakit ginjal.

Faktor terkait resipien. Harus dipastikan terlebih dahulu apakah pasien memang sudah mengalami gagal ginjal tahap akhir. Risiko dan tingkat keberhasilan transplantasi juga dipengaruhi berbagai faktor tertentu, seperti usia dan kondisi umum resipien.

Faktor imunologi. Pada transplantasi ginjal, sistem histokompatibilitas yang berperan adalah kesesuaian sistem golongan darah ABO dan HLA (human leucocyte antigen). Golongan darah ABO donor dan resipien harus sama agar tidak terjadi rejeksi vaskuler. Sedangkan ginjal transplan direjeksi terutama karena adanya protein pada membran sel yang dikode oleh MHC (Major Histocompatibility Complex). MHC menempati lengan pendek kromosom 6. Dengan obat imunosupresan, dilaporkan ketahanan hidup 1 tahun dari saudara dengan HLA identik 90-95%, saudara dengan haplo-identik 70-80%, dan saudara dengan haplo-negatif 60-70% (Susalit, 2007).

E. Mekanisme Penolakan Transplantasi Organ

Golongan darah dan molekul MHC diantara berbagai individu berbeda. Reaksi penolakan dapat dikurangi dengan menggunakan anggota keluarga sebagai donor, tissue typing, dan obat imunosupresi.

Reaksi penolakan ditimbulkan oleh sel Th resipien yang mengenal antigen MHC alogenik dan memicu imunitas humoral (antibodi). Sel CTL/Tc juga mengenal antigen MHC alogenik dan membunuh sel sasaran. Kemungkinan lain juga bahwa makrofag dikerahkan ke tempat tandur atas pengaruh limfokin dari sel Th sehingga menimbulkan kerusakan. Reaksi tersebut sesuai dengan reaksi tipe IV dari Gell dan Coombs/DTH.

Urutan kejadian yang dapat terjadi selama penolakan tandur adalah: 1) dilakukan transplantasi; 2) sel dendritik atau makrofag yang ada di dalam tandur (passenger leucocytes) meninggalkan tandur dan merangsang sel T resipien dengan segera; 3) sel T resipien diaktifkan dan membunuh sel donor dalam tandur; dan 4) sel donor yang dibunuh melepas antigen donor, yang dapat dimakan fagosit resipien yang kemudian mempresentasikannya ke sel T resipien melalui molekul MHC II (Baratawidjaja, 2006).

BAB III

PEMBAHASAN

Pada keadaan gagal ginjal, produksi eritropoietin, yaitu hormon yang merangsang eritropoiesis menurun, sehingga terjadi penurunan kadar Hb, akibatnya terjadi keadaan anemia. Jenis produk darah yang ditransfusikan kepada pasien gagal ginjal, seperti pada pasien dengan anemia lainnya adalah Packed Red Blood Cell (P-RBC).

Beberapa penyakit dapat ditularkan melalui transfusi darah, karena virus dan bakteri dapat mengkontaminasi eritrosit dan trombosit. Eritrosit dan trombosit berpatogen ini juga akan menyebabkan timbulnya penyakit pada tempat dimana ia ditransfusikan. Sebelum pelaksanaan transfusi darah, terlebih dahulu dicek keadaan donor, mulai dari keadaan umum, skrining darah untuk memastikan bebas dari penyakit menular, dan tes uji silang untuk mencocokkan darah donor dengan resipien. Sementara pasien harus termasuk dalam indikasi transfusi.

Tranplantasi organ menurut kaidah bioetika dan humaniora boleh dilakukan, asalkan sesuai dengan indikasi, sebagai jalan terakhir, ada persetujuan, dan agama Islam mensyaratkan bahwa organ tidak boleh diperjual-belikan.

Reaksi penolakan pada transplantasi diperankan oleh sel Th yang kemudian merangsang sel Tc dan mekanisme imunitas humoral (antibodi), yang kemudian bekerja dengan tujuan destruksi sel sasaran. Selain itu makrofag sebagai imunitas nonspesifik juga berperan dalam proses destruksi. Sel imun resipien bekerja menolak antigen donor, sebaliknya, sel imun donor juga menolak antigen resipien. Pada intinya, penolakan terjadi dari dua belah pihak, baik resipien maupun donor.

Faktor penyebab imunodefisiensi secara umum adalah kelainan genetika dan defek kromosom yang menyebabkan imunodefisiensi primer, berbagai keadaan tertentu seperti kehamilan, usia lanjut, dan usia tahun pertama yang mengakibatkan imunodefisiensi fisiologis, dan malnutrisi, infeksi, obat-obatan, dan penyinaran, yang mengakibatkan imunodefisiensi sekunder/didapat. Mekanisme imunodefisiensi pada pasien dalam kasus akibat perkembangan penyakit terjadi sebagai konsekuensi dari gagal ginjal itu sendiri. Gangguan filtrasi menyebabkan terbuangnya protein, yang dibutuhkan sebagai bahan untuk membuat antibodi. Ketiadaan bahan ini menyebabkan defisiensi antibodi, yang menyebabkan pertahanan melemah. Diet pada pasien gagal ginjal juga merupakan salah satu faktor penyebab imunodefisiensi, karena pasien yang gagal ginjal biasanya diberikan diet rendah protein agar kerja filtrasi ginjal tidak terlalu berat. Padahal, protein dibutuhkan untuk pembentukan antibodi. Konsekuensi dari defisiensi protein adalah defisiensi antibodi, sehingga terjadi imunodefisiensi. Sedangkan efek terapi juga dapat menimbulkan imunodefisiensi. Hal ini timbul akibat pemakaian obat-obatan untuk terapi gagal ginjal yang mempunyai sifat imunonosupresif, misalnya kortikosteroid. Mekanisme imunosupresan sendiri antara lain menghambat respon imun primer, seperti pengolahan antigen oleh APC, sintesis limfokin, dan proliferasi dan diferensiasi sel imun. Karena itu, pada pasien transplantasi organ, untuk meminimalisir reaksi penolakan, digunakan obat-obatan imunosupresan.

Kegagalan imunisasi dapat terjadi akibat imunodefisiensi. Imunisasi berdasar pada mekanisme “latihan” terhadap antigen yang masuk. Apabila pada saat “latihan” saja sistem imun telah mengalami defisiensi, sangat mungkin sekali pada saat infeksi antigen yang sebenarnya (virus atau bakteri yang sebenarnya dan tidak dilemahkan atau dimatikan) sistem imun tidak dapat menghadapi antigen tersebut dengan baik.

Reaksi dan komplikasi dari transfusi dapat berupa reaksi hemolitik, reaksi panas atau demam, dan reaksi alergi. Pada pasien, reaksi yang berupa gatal-gatal dan sesak nafas adalah mekanisme alergi yang merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I, yaitu reaksi anafilaksis dengan perantara IgE. Gatal adalah efek penekanan saraf oleh histamin, sedangkan pada bronkus, histamin menyebabkan bronkokonstriksi sehingga timbul gejala sesak nafas.

Kemungkinan penyebab terjadinya abortus yang terjadi pada ibu guru di sekolah Pak Andi adalah janin merupakan kehamilan kedua, dan anak pertama yang lahir mempunyai rhesus (+). Sementara jika ibu mempunyai rhesus (-), maka ibu akan membentuk antibodi terhadap eritrosit Rh (+), sehingga pada kehamilan berikutnya ibu telah mempunyai antibodi Rh(+) yang meningkat. Hal ini kemudian menyebabkan eritroblastosis fetalis, yaitu janin mengalami hemolisis. Karena itu, janin mengalami abortus di dalam uterus.

BAB IV

PENUTUP

A.  KESIMPULAN

  1. Transplantasi organ dapat menimbulkan penolakan, kecuali apabila molekul MHC antara donor dan resipien identik. Semakin mirip molekul MHC antara donor dan resipien, maka risiko terjadinya penolakan semakin kecil.
  2. Imunodefisiensi mempunyai tiga penyebab: kongenital (biasanya akibat faktor genetik), fisiologik, dan didapat (biasanya akibat pengaruh dari luar)

B.  SARAN

  1. Sebaiknya segera dilakukan tindakan pertolongan bagi istri Pak Eko (transfusi).
  2. Sebaiknya dilakukan transplantasi ginjal setelah menemukan organ donor yang cocok. Jika belum menemukan maka sementara dapat dilakukan hemodialisis.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. KH Ma’ruf Amin: Jual Beli Organ Haram Hukumnya. Diakses dari http://forum35.wordpress.com/2007/10/08/kh-maruf-amin-ketua-fatwa-mui-jual-beli-organ-haram-hukumnya/

Baratawidjaja, Karnen G. 2006. Imunologi Dasar Edisi Ke Tujuh. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Djoerban, Zubairi. 2007. Dasar-Dasar Transfusi Darah dalam Sudoyo, Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Guyton, Arthur C. Hall, John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC.

Hanafiah, M. Jusuf. Amir, Amri. 1999. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta: EGC.

Susalit, Endang. 2007. Transplantasi Ginjal dalam Sudoyo, Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Suwitra, Ketut. 2007. Penyakit Ginjal Kronik dalam Sudoyo, Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI

Lampiran 1

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan defisiensi imun sekunder

Faktor Komponen yang kena
Proses penuaan Infeksi meningkat, penurunan respon terhadap vaksinasi, penurunan respon sel T dan B serta perubahan dalam kualitas respon
Malnutrisi Malnutrisi protein-kalori dan kekurangan elemen gizi tertentu (besi, seng/Zn); sebab tersering defisiensi imun sekunder.
Mikroba imunosupresif Contohnya: malaria, virus, campak, terutama HIV, mekanismenya melibatkan penurunan fungsi sel T dan APC
Obat imunosupresif Steroid
Obat sitotoksik/iradiasi Obat yang banyak digunakan terhadap tumor, juga membunuh sel penting dari sistem imun termasuk stem cell, progenitor neutrofil dan limfosit yang cepat membelah dalam organ limfoid
Tumor Efek direk dari tumor terhadap sistem imun melalui pelepasan molekul imunoregulatori imunosupresif (TNF-β)
Penyakit seperti diabetes Diabetes sering berhubungan dengan infeksi
Trauma Infeksi meningkat, diduga berhubungan dengan pelepasan molekul imunosupresif seperti glukokortikoid
Lain-lain Depresi, penyakit Alzheimer, penyakit celiac, sarkoidosis, penyakit limfoproliferatif, makroglobulinemia Waldenstrom, anemia aplastik, neoplasia.

(Baratawidjaja, 2006)

Lampiran 2

Proses evaluasi calon donor hidup

  1. Penjaringan donor
  • Edukasi resipien tentang donor hidup dan jenazah
  • Anamnesis dan penjaringan donor
  • Konfirmasi kesamaan golongan darah ABO
  • Pemeriksaan tissue typing dan crossmatch
  • Pilih calon donor yang paling sesuai
  • Edukasi calon donor tentang proses evaluasi dan donasi
  1. Evaluasi donor
  • Anamnesis dan pemeriksaan fisik lengkap
  • Pemeriksaan laboratorium:
  • Darah lengkap, kimia darah, HBsAg, anti HCV, CMV, VDRL, HIV, tes toleransi glukosa (jika ada riwayat diabetes), hemostasis, tes kehamilan
  • Urinalisis, kultur urin, tes klirens kreatinin, ekskresi protein dalam urin 24 jam
  • Foto toraks, EKG, tes treadmill (usia >50 tahun), pielografi IV
  • Evaluasi psikiatrik
  • Arteriografi ginjal
  • Tes crossmatch sebelum transplantasi

(Susalit, 2007).

Categories: Imunologi | Tags: , | 6 Comments

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.