Imunologi

Reaksi Hipersensitivitas Sebagai Dasar Mekanisme Alergi Terkait Dengan Faktor Nutrisi

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Urtikaria atau biduran, dalam bahasa awam, adalah suatu kelainan yang terbatas pada bagian superfisial kulit berupa bintul (wheal) yang berbatas jelas dengan dikelilingi daerah yang eritematous. Urtikaria dikenal juga sebagai penyakit kulit dengan bintul-bintul kemerahan sebagai akibat dari proses alergi (Baskoro et.al, 2007).

Berikut ini adalah permasalahan dalam skenario 2:

Seorang anak bernama Siti, 10 tahun, sering menderita biduren/kaligata, yang biasanya timbul setelah makan udang. Menurut ibunya, beberapa hari setelah lahir dulu pada pipinya timbul eczema, berwarna kemerahan dan selalu digaruk-garuk. Waktu bayi selain ASI, juga mendapat susu formula. Sejak kecil, sehabis makan udang dan kepiting langsung keluar bentol-bentol merah, terasa gatal dan juga disertai kolik abdomen serta diare.

Selanjutnya, Siti tidak berani lagi makan udang, telur, dan semua ikan laut. Setelah periksa ke dokter, hasil pemeriksaan darah lengkap Hb: 13, 2 gr/dL; jumlah leukosit: 7,5×103; AT: 337×103; hitung jenis leukosit: eosinofilia relatif. Selanjutnya dokter memberikan obat dan dianjurkan dilakukan pemeriksaan skin prick test.

Ibunya Siti sering pilek, hidung gatal, bersin-bersin, dan juga menderita asma, dengan gejala sesak nafas dan mengi. Pada waktu hamil ibunya Siti khawatir kalau asmanya menurun pada anaknya. Mereka konsultasi kepada dokter mengenai hasil tersebut. Ibunya Siti pernah berobat ke praktek dokter, diberikan suntikan dan syok. Dokter berusaha menangani syoknya tersebut, namun tidak membaik dan akhirnya dirujuk ke rumah sakit.

B. RUMUSAN MASALAH

  1. Apakah perbedaan mekanisme reaksi hipersensitivitas tipe I, II, III, dan IV?
  2. Bagaimanakah mekanisme reaksi hipersensitivitas tipe I sebagai dasar reaksi alergi?
  3. Apakah hubungan antara nutrisi dengan alergi?
  4. Bagaimanakah mekanisme perjalanan alergi, mengapa bisa menghilang namun ada juga yang menetap?
  5. Bagaimanakah alergi ditinjau dari sudut pandang genetika?
  6. Bagaimana tahap penegakan diagnosis dan pemeriksaan laboratorium pada penyakit alergi?
  7. Bagaimanakah penatalaksanaan penyakit alergi yang tepat?

C. TUJUAN PENULISAN

  1. Apakah perbedaan mekanisme reaksi hipersensitivitas tipe I, II, III, dan IV?
  2. Bagaimanakah mekanisme reaksi hipersensitivitas tipe I sebagai dasar reaksi alergi?
  3. Apakah hubungan antara nutrisi dengan alergi?
  4. Bagaimanakah mekanisme perjalanan alergi, mengapa bisa menghilang namun ada juga yang menetap?
  5. Bagaimanakah alergi ditinjau dari sudut pandang genetika?
  6. Bagaimana tahap penegakan diagnosis dan pemeriksaan laboratorium pada penyakit alergi?
  7. Bagaimanakah penatalaksanaan penyakit alergi yang tepat?

D.  MANFAAT PENULISAN

  • Mahasiswa mampu menjelaskan sistem imun manusia.
  • Mahasiswa mampu menjelaskan penyakit yang terkait sistem imun.
  • Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi dan patogenesis penyakit-penyakit imunologis.
  • Menjelaskan komplikasi yang timbul dari penyakit imunologis.
  • Menjelaskan cara pencegahan penyakit imunologi dengan pertimbangan faktor pencetus.
  • Menjelaskan cara pencegahan komplikasi penyakit imunologis.

F.   HIPOTESIS

Urtikaria yang terjadi pada pasien dalam kasus adalah akibat dari reaksi hipersensitivitas tipe I, yaitu reaksi alergi terhadap makanan tertentu.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Reaksi Hipersensitivitas

Hipersensitivitas yaitu reaksi imun yang patologik, terjadi akibat respon imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Reaksi hipersensitivitas menurut Coombs dan Gell dibagi menjadi 4 tipe reaksi berdasarkan kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi, yaitu tipe I, II, III, dan IV. Kemudian Janeway dan Travers merivisi tipe IV Gell dan Coombs menjadi tipe IVa dan IVb.

Reaksi tipe I yang disebut juga reaksi cepat atau reaksi anafilaksis atau reaksi alergi timbul segera setelah tubuh terpajan dengan alergen. Pada reaksi tipe I, alergen yang masuk ke dalam tubuh menimbulkan respon imun berupa produksi IgE dan penyakit alergi seperti rinitis alergi, asma, dan dermatitis atopi.

Reaksi tipe II atau reaksi sitotoksik atau sitotoksik terjadi karena dibentuk antibodi jenis IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian dari sel pejamu. Reaksi tipe III disebut juga reaksi kompleks imun, terjadi bila kompleks antigen-antibodi ditemukan dalam sirkulasi/pembuluh darah atau jaringan dan mengaktifkan komplemen. Reaksi hipersensitivitas tipe IV dibagi dalam DTH (Delayed Type Hypersensitivity) yang terjadi melalui sel CD4+ dan T cell Mediated Cytolysis yang terjadi melalui sel CD8+ (Baratawidjaja, 2006).

Jenis Hipersensitivitas

Mekanisme Imun Patologik

Mekanisme Kerusakan Jaringan dan Penyakit

Tipe I

Hipersensitivitas cepat

IgE Sel mast dan mediatornya  (amin vasoaktif, mediator lipid, dan sitokin)
Tipe II

Reaksi melalui antibodi

IgM, IgG terhadap permukaan sel atau matriks antigen ekstraseluler Opsonisasi & fagositosis sel

Pengerahan leukosit (neutrofil, makrofag) atas pengaruh komplemen dan FcR

Kelainan fungsi seluler (misal dalam sinyal reseptor hormone)

Tipe III

Kompleks imun

Kompleks imun (antigen dalam sirkulasi dan IgM atau IgG) Pengerahan dan aktivasi leukosit atas pengaruh komplemen dan Fc-R
Tipe IV (melalui sel T)

Tipe IVa

Tipe IVb

  1. CD4+ : DTH
  2. CD8+ : CTL
  1. Aktivasi makrofag, inflamasi atas pengaruh sitokin
  2. Membunuh sel sasaran direk, inflamasi atas pengaruh sitokin

(Baratawidjaja, 2006).

  1. B. Mekanisme Alergi ─ Hipersensitivitas Tipe I

Hipersensitivitas tipe I terjadi dalam reaksi jaringan terjadi dalam beberapa menit setelah antigen bergabung dengan antibodi yang sesuai. Ini dapat terjadi sebagai anafilaksis sistemik (misalnya setelah pemberian protein heterolog) atau sebagai reaksi lokal (misalnya alergi atopik seperti demam hay) (Brooks et.al, 2005). Urutan kejadian reaksi tipe I adalah sebagai berikut:

  1. Fase Sensitisasi, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE sampai diikatnya oleh reseptor spesifik (Fcε-R) pada permukaan sel mast dan basofil.
  2. Fase Aktivasi, yaitu waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang spesifik dan sel mast melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi.
  3. Fase Efektor, yaitu waktu terjadi respons yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek mediator-mediator yang dilepas sel mast dengan aktivitas farmakologik (Baratawidjaja, 2006).

Mekanisme alergi, misalnya terhadap makanan, dapat dijelaskan sebagai berikut. Secara imunologis, antigen protein utuh masuk ke sirkulasi dan disebarkan ke seluruh tubuh. Untuk mencegah respon imun terhadap semua makanan yang dicerna, diperlukan respon yang ditekan secara selektif yang disebut toleransi atau hiposensitisasi. Kegagalan untuk melakukann toleransi oral ini memicu produksi antibodi IgE berlebihan yang spesifik terhadap epitop yang terdapat pada alergen. Antibodi tersebut berikatan kuat dengan reseptor IgE pada basofil dan sel mast, juga berikatan dengan kekuatan lebih rendah pada makrofag, monosit, limfosit, eosinofil, dan trombosit.

Ketika protein melewati sawar mukosa, terikat dan bereaksi silang dengan antibodi tersebut, akan memicu IgE yang telah berikatan dengan sel mast. Selanjutnya sel mast melepaskan berbagai mediator (histamine, prostaglandin, dan leukotrien) yang menyebabkan vasodilatasi, sekresi mukus, kontraksi otot polos, dan influks sel inflamasi lain sebagai bagian dari hipersensitivitas cepat. Sel mast yang teraktivasi juga mengeluarkan berbagai sitokin lain yang dapat menginduksi reaksi tipe lambat (Rengganis dan Yunihastuti, 2007).

Gejala yang timbul pada hipersensitivitas tipe I disebabkan adanya substansi aktif (mediator) yang dihasilkan oleh sel mediator, yaitu sel basofil dan mastosit.

  1. Mediator jenis pertama

Meliputi histamin dan faktor kemotaktik.

–       histamin menyebabkan bentol dan warna kemerahan pada kulit, perangsangan saraf sensorik, peningkatan permeabilitas kapiler, dan kontraksi otot polos.

–       Faktor kemotaktik. Dibedakan menjadi ECF-A (eosinophil chemotactic factor of anophylaxis) untuk sel-sel eosinofil dan NCF-A (neutrophil chemotactic factor of anophylaxis) untuk sel-sel neutrofil.

  1. Mediator jenis kedua

Dihasilkan melalui pelepasan asam arakidonik dari molekul-molekul fosfolipid membrannya. Asam arakidonik ialah substrat 2 macam enzim, yaitu sikloksigenase dan lipoksigenase.

–       Aktivasi enzim sikloksigenase akan menghasilkan bahan-bahan prostaglandin dan tromboxan yang sebagian dapat menyebabkan reaksi radang dan mengubah tonus pembuluh darah.

–       Aktivasi lipoksigenase diantaranya akan menghasilkan kelompok lekotrien. Lekotrien C, D, E sebelum dikenal ciri-cirinya dinamakan SRS-A (Slow reactive substance of anaphylaxis) karena lambatnya pengaruh terhadap kontraksi otot polos dibandingkan dengan histamin.

  1. Mediator jenis ketiga

Dilepaskan melalui degranulasi seperti jenis pertama, yang mencakup (1) heparin, (2) kemotripsin/tripsin (3) IF-A (Kresno, 2001; Wahab, et.al, 2002)

  1. C. Nutrisi dan Alergi

Makanan merupakan salah satu penyebab reaksi alergi yang berbahaya. Seperti alergen lain, alergi terhadap makanan dapat bermanifestasi pada salah satu atau berbagai organ target: kulit (urtikaria, angiodema, dermatitis atopik), saluran nafas (rinitis, asma), saluran cerna (nyeri abdomen, muntah, diare), dan sistem kardiovaskular (syok anafilaktik) (Rengganis dan Yunihastuti, 2007). Urtikaria akibat alergi makanan biasanya timbul  setelah 30-90 menit setelah makan dan biasa disertai gejala lain seperti diare, mual, kejang perut, hidung buntu, bronkospasme, hingga gangguan vaskular. Semua gejala ini diperantarai oleh IgE (Baskoro et.al, 2007).

Hampir setiap jenis makanan memiliki potensi untuk menimbulkan reaksi alergi. Alergen dalam makanan terutama berupa protein yang terdapat di dalamnya. Namun, tidak semua protein dalam makanan mampu menginduksi produksi IgE. Penyebab tersering alergi pada orang dewasa adalah kacang-kacangan, ikan, dan kerang. Sedangkan penyebab alergi tersering pada anak adalah susu, telur, kacang-kacangan, ikan, dan gandum. Sebagian besar alergi hilang setelah pasien menghindari makanan tersebut, dan melakukan eliminasi makanan, kecuali terhadap kacang-kacangan, ikan, dan kerang cenderung menetap atau menghilang setelah jangka waktu yang sangat lama.

Ikan dapat menimbulkan sejumlah reaksi. Alergen utama dalam codfish adalah Gad c1 telah diisolasi dari fraksi miogen. Udang mengandung beberapa alergen. Antigen II dianggap sebagai alergen utama. Otot udang mengandung glikoprotein otot yang mengandung Pen a1 (tropomiosin).

Gambaran klinis reaksi alergi terhadap makanan terjadi melalui IgE dan menunjukkan manifestasi terbatas: gastrointestinal, kulit dan saluran nafas. Tanda dan gejalanya disebabkan oleh pelepasan histamine, leukotrien, prostaglandin, dan sitokin. Alergen yang dimakan dapat menimbulkan efek luas, berupa respon urtikaria di seluruh tubuh, karena distribusi random IgE pada sel mast yang tersebar di seluruh tubuh (Rengganis dan Yunihastuti, 2007). .

  1. D. Penegakan Diagnosis Penyakit Alergi

Bila seorang pasien datang dengan kecurigaan menderita penyakit alergi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan terlebih dahulu apakah pasien benar-benar menderita penyakit alergi. Selanjutnya baru dilakukan pemeriksaan untuk mencari alergen penyebab, selain juga faktor-faktor non alergik yang mempengaruhi timbulnya gejala.

Prosedur penegakan diagnosis pada penyakit alergi meliputi beberapa tahapan berikut.

1) Riwayat Penyakit. Didapat melalui anamnesis, sebagai dugaan awal adanya keterkaitan penyakit dengan alergi.

2) Pemeriksaan Fisik. Pemeriksaan fisik yang lengkap harus dibuat, dengan perhatian ditujukan terhadap penyakit alergi bermanifestasi kulit, konjungtiva, nasofaring, dan paru. Pemeriksaan difokuskan pada manifestasi yang timbul.

3)  Pemeriksaan Laboratorium. Dapat memperkuat dugaan adanya penyakit alergi, namun tidak untuk menetapkan diagnosis. Pemeriksaan laboaratorium dapat berupa hitung jumlah leukosit dan hitung jenis sel, serta penghitungan serum IgE total dan IgE spesifik.

4) Tes Kulit. Tes kulit berupa skin prick test (tes tusuk) dan patch test (tes tempel) hanya dilakukan terhadap alergen atau alergen lain yang dicurigai menjadi penyebab keluhan pasien.

5)  Tes Provokasi. Adalah tes alergi dengan cara memberikan alergen secara langsung kepada pasien sehingga timbul gejala. Tes ini hanya dilakukan jika terdapat kesulitan diagnosis dan ketidakcocokan antara gambaran klinis dengan tes lainnya. Tes provokasi dapat berupa tes provokasi nasal dan tes provokasi bronkial (Tanjung dan Yunihastuti, 2007).

  1. E. Penatalaksanaan Penyakit Alergi

Pada pasien perlu dijelaskan tentang jenis urtikaria, penyebabnya (bila diketahui), cara-cara sederhana untuk mengurangi gejala, pengobatan yang dilakukan dan harapan di masa mendatang. Prioritas utama pengobatan urtikaria adalah eliminasi dari bahan penyebab, bahan pencetus atau antigen.

Penatalaksanaan medikamentosa terdiri atas pengobatan lini pertama, kedua, dan ketiga. Pengobatan lini pertama adalah penggunaan antihistamin berupa AH1 klasik yang bekerja dengan menghambat kerja histamin. Pengobatan lini kedua adalah dengan penggunaan kortikosteroid, sementara pengobatan lini ketiga adalah penggunaan imunosupresan (Baskoro et.al, 2007).

BAB III

PEMBAHASAN

Mekanisme reaksi alergi adalah berdasar pada reaksi hipersensitivitas tipe I, yaitu timbulnya respon IgE yang berlebihan terhadap bahan yang dianggap sebagai alergen, sehingga terjadi pelepasan berbagai mediator penyebab reaksi alergi, walaupun pada orang normal reaksi ini tidak terjadi. Apabila reaksi alergi ini berlangsung sangat berlebihan, dapat timbul syok anafilaktik.

Histamin yang dilepaskan menimbulkan berbagai efek. Vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler yang terjadi menyebabkan pindahnya plasma dan sel-sel leukosit ke jaringan, sehingga menimbulkan bintul-bintul berwarna merah di permukaan kulit. Sementara rasa gatal timbul akibat penekanan ujung-ujung serabut saraf bebas oleh histamin. Kemudian kerusakan jaringan yang terjadi akibat proses inflamasi menyebabkan sekresi protease, sehingga menimbulkan rasa nyeri akibat perubahan fungsi. Efek lain histamin, yaitu kontraksi otot polos dan perangsangan sekresi asam lambung, menyebabkan timbulnya kolik abdomen dan diare.

ASI berisi substansi alamiah yang membantu maturitas usus bayi sehingga melindungi terhadap reaksi alergi, meningkatkan pertumbuhan postnatal dari epitel intestinal dan maturasi fungsi mukosa, serta menjaga keseimbangan Th1 dan Th2 yang menyebabkan penurunan risiko terjadinya alergi.

Anak-anak, terutama bayi, lebih rentan mengalami alergi, karena maturitas barier imunitasnya belum sempurna, sehingga belum dapat melindungi tubuh dengan maksimal. Selain itu, sekresi enzim untuk mencerna zat gizi, terutama protein, belum dapat bekerja maksimal, sehingga terjadi alergi pada makanan tertentu, terutama makanan berprotein. Ada alergi yang dapat membaik, karena maturitas enzim dan barier yang berjalan seiring dengan bertambahnya umur. Hal ini juga dapat terjadi akibat faktor polimorfisme genetik antibodi yang aktif pada waktu tertentu, sehingga menentukan kepekaan terhadap alergen tertentu.

Secara umum, hasil pemeriksaan laboratorium normal. Terjadi eosinofilia relatif, karena disertai dengan penurunan basofil akibat banyaknya terjadi degranulasi. Eosinofil sendiri menghasilkan histaminase dan aril sulfatase. Histaminase yang dihasilkan ini  berperan dalam mekanisme pembatasan atau regulasi histamin, sehingga pada pasien dengan kasus alergi yang berat, jumlah eosinofil akan sangat meningkat melebihi normal.

Ibunya Siti yang mengalami pilek, hidung gatal, bersin-bersin, dan juga menderita asma, dengan gejala sesak nafas dan mengi, menunjukkan bahwa ibunya Siti juga memiliki riwayat alergi. Mekanisme alergi pada ibunya Siti juga tetap diperantarai histamin, namun, alergi pada ibunya Siti bermanifestasi pada saluran pernafasan. Contohnya, bronkokonstriksi yang menyebabkan sesak nafas dan mengi (ekspirasi berbunyi) adalah akibat dari kerja histamin yang menyebabkan kontraksi otot polos bronkus. Sedangkan pilek, hidung gatal, dan bersin, adalah upaya mukosa dan sekretnya untuk menyingkirkan alergen yang masuk ke saluran pernafasan. Asma, dalam hal ini adalah alergi bronkus yang dikhawatirkan menurun, memang mempunyai kemungkinan diturunkan. Dengan mempunyai hanya satu orang tua yang memiliki riwayat alergi saja, anak telah memiliki risiko alergi sebesar 20-40%.

Syok anafilaktik yang terjadi ketika ibunya Siti disuntik merupakan salah satu reaksi alergi hebat akibat pelepasan histamin yang diantaranya ditandai dengan penurunan kesadaran dan penurunan tekanan darah. Apabila dijumpai syok anafilaktik, hendaknya pada pasien segera diberikan antagonis fisiologis histamin, yaitu berupa injeksi adrenalin.

Apabila dijumpai pasien dengan kecurigaan penyakit alergi, maka pertama kali dilakukan anamnesis, kemudian pemeriksaan fisik dan laboratorium, kemudian tes kulit yang sederhana. Apabila belum ditemukan penyebab yang pasti, barulah dilakukan tes provokasi.

Dalam kasus, kemungkinan besar pasien alergi terhadap makanan tertentu seperti udang dan kepiting, karena gejala-gejala alergi yang ada timbul setelah pasien makan makanan tersebut. Penatalaksanaan yang paling baik untuk alergi adalah menghindari alergennya. Namun apabila diperlukan, dapat digunakan antihistamin, obat-obat kortikosteroid, serta imunosupresan yang seluruhnya digunakan untuk menekan respon sistem imun yang berlebihan yang terjadi pada reaksi alergi.

BAB IV

PENUTUP

A.  KESIMPULAN

  1. Reaksi hipersensitivitas tipe I adalah dasar dari reaksi alergi dengan perantara IgE.
  2. Pasien dalam kasus mengalami alergi terhadap makanan.
  3. Alergi dapat membaik, dan dapat juga menetap seumur hidup.
  4. Sifat alergi mempunyai kemungkinan diturunkan.
  5. Diagnosis penyakit alergi ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, tes kulit, dan apabila perlu tes provokasi.
  6. Cara terbaik menangani alergi adalah dengan menghindari alergen. Apabila perlu dapat digunakan antihistamin, kortikosteroid, dan imunosupresan.

B.  SARAN

  1. Sebaiknya Siti segera menjalani skin prick test agar diagnosis penyakit dapat segera dipastikan, dan dibandingkan dengan diagnosis banding bintul kulit lainnya, yaitu herpes, pemfigoid bulosa, atau penyakit gula kronik.
  2. Sebaiknya Siti menghindari makanan-makanan penyebab alergi, seperti udang dan kepiting, dan menggunakan makanan lain sebagai sumber protein pengganti.

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja, Karnen G. 2006. Imunologi Dasar Edisi Ke Tujuh. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Baskoro, Ari. Soegiarto, Gatot. Effendi, Chairul. Konthen, P.G. 2007. Urtikaria dan Angiodema dalam Sudoyo, Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Brooks, Geo F. Butel, Janet S. Morse, Stephen A. 2005. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 21. Jakarta: Salemba Medika.

Kresno, Siti Boedina. 2001. Imunologi : Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Jakarta: FKUI

Rengganis, Iris. Yunihastuti, Evy. 2007. Alergi Makanan dalam Sudoyo, Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Tanjung, Azhar. Yunihastuti, Evy. 2007. Prosedur Diagnostik Penyakit Alergi dalam Sudoyo, Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Wahab, A Samik. Julia, Madarina. 2002. Sistem Imun, Imunisasi, & Penyakit Imun. Jakarta: Widya Medika.

Categories: Imunologi | Tags: , , , | 3 Comments

Imunologi Infeksi Virus Campak Terkait Imunitas Pasca Vaksinasi

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Campak adalah suatu penyakit akut yang sangat infeksius, ditandai dengan ruam kulit makulopapular, demam, dan gejala pernafasan (Brooks et.al, 2005). Imunitas adalah resistensi terhadap penyakit terutama penyakit infeksi (Baratawidjaja, 2006). Manifestasi klinis campak sebenarnya ringan, namun komplikasinya seringkali fatal sehingga dapat menyebabkan kematian pada anak.

Berikut ini adalah permasalahan dalam skenario 1:

Ibu Susi punya dua anak. Anak pertama bernama Amir, 5 tahun, dan anak kedua bernama Ali, 9 bulan. Saat dibawa ke posyandu, oleh petugas, Ali disarankan untuk mengikuti imunisasi campak. Bu Susi ragu karena Amir, yang dahulu juga diimunisasi campak pada usia 9 bulan ternyata tidak kebal, sehingga masih dapat menderita campak pada usia 3 tahun. Apalagi pernah ada anak tetangganya yang setelah mendapatkan imunisasi malah panas. Ada lagi anak lain yang di tempat suntikan imunisasinya malah terjadi radang. Ada juga yang imunisasinya tidak berhasil karena anak kurang gizi.

Masalahnya, Udin, anak tetangga lain yang sering main ke rumah Bu Susi sekarang sedang menderita campak. Bu Susi takut anaknya tertular, tetapi Bu Susi masih meragukan apakah setelah imunisasi Ali bisa terhindar dari penyakit campak. Kenapa imunisasi campak tidak diberikan sejak lahir saja, dan bagi Udin yang sedang menderita penyakit campak, apa harus diimunisasi lagi?

B. RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimanakah mekanisme sistem imunitas?
  2. Mengapa vaksin campak diberikan pada saat anak berusia 9 bulan?
  3. Mengapa pada anak yang diimunisasi dapat terjadi panas dan radang?
  4. Apa saja faktor yang mempengaruhi keberhasilan imunisasi?
  5. Mengapa Amir masih dapat menderita campak, padahal sudah diimunisasi pada usia 9 bulan?
  6. Bagaimana penatalaksanaan pada masing-masing anak dalan kasus (Ali dan Udin)?

C. TUJUAN PENULISAN

  1. Mengetahui mekanisme sistem imunitas.
  2. Mengetahui alasan vaksin campak diberikan pada saat anak berusia 9 bulan.
  3. Mengetahui mekanisme timbulnya panas dan radang pasca imunisasi.
  4. Mengetahui faktor yang mempengaruhi keberhasilan imunisasi.
  5. Mengetahui penyebab infeksi campak berulang dan kemungkinan campak pasca imunisasi.
  6. Mengetahui penatalaksanaan pada masing-masing anak dalam kasus (Ali dan Udin).

D.  MANFAAT PENULISAN

  • Mahasiswa mampu menjelaskan sistem imun manusia.
  • Mahasiswa mampu menjelaskan penyakit yang terkait sistem imun.
  • Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi dan patogenesis penyakit-penyakit imunologis.
  • Menjelaskan komplikasi yang timbul dari penyakit imunologis.
  • Menjelaskan cara pencegahan penyakit imunologi dengan pertimbangan faktor pencetus.
  • Menjelaskan cara pencegahan komplikasi penyakit imunologis.

F.   HIPOTESIS

Imunisasi campak diberikan pada usia 9 bulan karena pada usia 9 bulan imunitas bawaan bayi yang diberikan ibu (IgG) lewat transplacental mulai menurun. Pada anak yang telah menderita campak tidak perlu diberikan imunisasi ulang karena tubuh telah membentuk antibodi terhadap patogen.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Sistem Imunitas

Pertahanan imun terdiri atas sistem imun alamiah atau nonspesifik (innate/native) dan didapat atau spesifik (adaptive/acquired). Disebut nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu, telah ada dan siap berfungsi sejak lahir. Imunitas spesifik timbul lebih lambat. (Baratawidjaja, 2006)

Sistem imun terdiri atas pelaksana, yaitu lekosit yang terdiri dari limfosit-T/B (sel-T4/T8), NK cells, memory cells, dan granulosit (sel neutrofil, eosinofil, dan basofil). Selain pelaksana, sistem imun juga didukung bahan-bahan yang disekresi, yaitu cytokine: monokin dan limfokin (interferon, interleukin, dan Tumor Necrosis Factor).

Dalam darah perifer terdapat tiga kelompok sel darah putih, yaitu limfosit, granulosit, dan fagosit. Limfosit T mengalami maturasi dalam timus, dan dibedakan menjadi sel T helper yang mengenali antigen, sel T supresor yang mengatur, dan sel T sitotoksik yang langsung memusnahkan zat asing. Selain itu, Natural Killer-Cells yang termasuk kelompok  limfosit granuler besar dapat melarutkan zat asing tanpa antibodi atau pengenalan antigen. Sedangkan LAK (Lymphokin Activated Killercells) adalah NKcells yang diaktivasi invitro. Limfosit B mengalami maturasi pada bursa fabrisius sel B mengalami maturasi menjadi sel plasma, atau sel B memori di bawah pengaruh makrofag. Antibodi yang disintesa dan dilepaskan dibagi menjadi 5 tipe antibodi atau immunoglobulin, yaitu tipe IgA, IgD, IgE, IgG, dan IgM, yang masing-masing mempunyai sifat spesifik tersendiri. Granulosit adalah lekosit dengan granula dan polinuklear. Dikenal 3 kelompok granulosit, yaitu sel neutrofil, basofil, dan eosinofil, yang juga disebut makrofag.

Cytokine adalah protein yang dibentuk tubuh dengan fungsi utama berkomunikasi antara berbagai bagian dari sistem imun. Terutama dibentuk oleh monocyte dan makrofag, tetapi juga limfosit, granulosit, hepatosit, kreatinosit, fibroblast, dan sel-sel epitel yang dapat membentuknya. Contoh lainnya adalah interferon, limfokin, dan monokin (Tjay dan Rahardja, 2006).

  1. B. Mekanisme Sistem Imunitas

Tangkisan aspesifik bersifat umum dan tidak diarahkan pada suatu zat asing tertentu atau perlu aktivasi terlebih dahulu seperti pada tangkisan spesifik. Pemeran utama pada sistem tangkis ini adalah makrofag, dibantu oleh neutrofil dan monocyte. Fungsi sel-sel ini adalah membasminya dengan jalan fagositosis serta melontarkan sejumlah proses-tangkis, seperti reaksi peradangan, pelepasan mediator, dan demam.

Tangkisan khas dilakukan oleh limfosit T dan B yang bekerja sama secara erat, dengan limfo-T4 merupakan poros dari imunitas spesifik. Antigen akan diproses oleh makrofag, kemudian akan dipresentasikan oleh Antigen Presenting Cell (APC) kepada sel B dan sel T (Tjay dan Rahardja, 2006).

Nonspesifik

Spesifik

Resistensi Tidak berubah oleh infeksi Membaik oleh infeksi berulang (=memori)
Spesifitas Umumnya efektif terhadap semua mikroba Spesifik untuk mikroba yang sudah mensensitisasi sebelumnya
Sel yang penting Fagosit

Sel NK (Natural Killer)

Sel mast

Eosinofil

Sel T : T sitotoksik (Tc), T helper (Th), T supresor (Ts), dan T dth

Sel B

Molekul yang penting Lisozim

Komplemen

APP (Acute Phase Protein)

Interferon

CRP (C-Reactive Protein)

Kolektin

Molekul adhesi

Antibodi

Sitokin

Mediator

Molekul adhesi

(Baratawidjaja, 2006)

  1. C. Overview Penyakit Campak

Penyakit campak disebabkan oleh virus Rubeola dari genus Morbillivirus yang termasuk dalam famili Paramyxoviridae. Virus masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan, berkembang biak secara lokal, kemudian infeksi menyebar ke jaringan limfoid regional, dimana terjadi perkembangbiakan lebih lanjut. Hanya terdapat satu antigen virus campak. Infeksi memberikan imunitas seumur hidup. Kebanyakan serangan kedua menggambarkan kesalahan diagnosis baik penyakit permulaan maupun kedua. (Brooks, et.al, 2005).

Cara penularan virus campak adalah melalui droplet dan kontak. Sebagai reaksi terhadap virus maka terjadi eksudat yang serous dan proliferasi sel mononukleus dan beberapa sel polimorfonukleus di sekitar kapiler. Kelainan ini terdapat pada kulit, selaput lendir nasofaring, bronkus dan konjungtiva. Penyakit ini dibagi dalam tiga stadium, yaitu 1) stadium kataral (prodromal), 2) stadium erupsi, dan 3) stadium konvalesensi.

Pada penyakit campak terdapat resistensi umum yang menurun sehingga mudah terjadi komplikasi sekunder seperti otitis media akut, ensefalitis, dan bronkopneumonia. Komplikasi neurologis pada campak dapat berupa hemiplegia, paraplegia, afasia, gangguan mental, neuritis optika, dan ensefalitis ( Hassan dan Alatas, 1985).

  1. D. Imunologi Infeksi Virus

Efektor pada imunitas nonspesifik dalam imunologi infeksi virus adalah IFN tipe I yang mencegah replikasi RNA virus juga menginduksi antiviral bagi sel di sekitarnya, dan sel NK yang membunuh sel yang terinfeksi. Pertama-tama, antibodi menempel dengan virus, sehingga mencegah virus masuk sel dan merupakan opsonin. IFN-α dan IFN-β mencegah virus bereplikasi. Kemudian sel NK membunuh sel terinfeksi dengan mengenalinya, yaitu sel yang tidak mengekspresikan MHC-I. Sementara sel Tc (sitotoksik) harus melalui peptida yang dipresentasikan sel terinfeksi dengan bantuan molekul MHC-I.

Efektor dari imunitas spesifik humoral adalah antibodi, yang menetralisasi virus serta mencegah virus menempel dan masuk ke dalam sel. IgA yang disekresi di mukosa berperan terhadap virus yang masuk tubuh melalui mukosa saluran nafas dan cerna. Antibodi juga dapat berperan sebagai opsonin. Aktivasi komplemen juga dapat meningkatkan fagositosis dan mungkin menghancurkan virus dengan envelop lipid secara langsung.

Eliminasi virus dalam sel diperankan oleh CD8+/CTL untuk membunuh sel terinfeksi. Kebanyakan CTL yang spesifik untuk virus berupa CD8+ yang mengenal antigen virus yang sudah dicerna dalam sitosol, biasanya disintesis endogen yang berhubungan dengan MHC-I dalam setiap sel yang bernukleus. Sel terinfeksi kemudian dimakan oleh APC, selanjutnya memproses antigen virus dan mempresentasikannya ke sel CD8+, yang kemudian berproliferasi secara masif. Sel T teraktivasi dan berdiferensiasi menjadi sel CTL efektor yang membunuh setiap sel bernukleus yang terinfeksi, melalui aktivasi nuclease dalam sel yang menghancurkan genom virus dan sekresi IFN-γ yang memiliki sifat antiviral (Baratawidjaja, 2006).

  1. E. Imunisasi dan Prinsip-prinsipnya

Imunitas buatan dapat dilakukan secara aktif, yaitu dengan pemberian antigen, dan imunisasi pasif, yaitu dengan pemberian antibodi. Imunisasi aktif diperoleh melalui pemberian vaksin. Tujuannya untuk merangsang imunitas seluler maupun humoral seperti yang berlangsung pada infeksi alamiah. Vaksin campak yang digunakan berupa virus campak hidup yang sudah sangat dilemahkan (Tjay dan Rahardja, 2006). Mekanisme proteksi dipengaruhi beberapa faktor. Keadaan nutrisi, penyakit yang menyertai dan usia akan mempengaruhi kadar globulin (Baratawidjaja, 2006).

Factor yang harus dipenuhi suatu vaksin yang baik adalah 1) efektivitas: harus memacu ambang protektif sistem imun, 2) ketersediaan: mudah dipersiapkan dan diakses, 3) stabilitas, 4) harga terjangkau, dan 5) keamanan: tidak ada kontaminasi (Baratawidjaja, 2006).

  1. F. Penatalaksanaan

Pengobatan penyakit campak berupa pengobatan simptomatik, yaitu antipiretik bila suhu tinggi, sedativum, obat batuk, dan memperbaiki keadaan umum. Tindakan lain ialah pengobatan segera terhadap komplikasi yang timbul (Hassan dan Alatas, 1985).

BAB III

PEMBAHASAN

Sistem imun adalah mekanisme pertahanan yang dibuat oleh tubuh untuk melindungi tubuh dari patogen. Ketika patogen masuk, maka sistem imun yang berperan untuk pertama kalinya adalah sistem imun nonspesifik. Ketika patogen masuk untuk yang kedua kalinya atau sesudahnya, maka tubuh telah mempersiapkan diri dengan membentuk antibodi yang spesifik sesuai dengan antigen yang masuk.

Imunisasi campak dilakukan pada usia 9 bulan, karena sampai usia 6 bulan, bayi masih membawa kekebalan, dalam hal ini berupa antibodi IgG, yang ditransfer transplasental. Antibodi bawaan ini kemudian menurun, hingga pada usia 9 bulan telah siap untuk diperkenalkan dengan virus campak yang telah dilemahkan.

Panas atau demam kemungkinan besar terjadi akibat mekanisme berikut. Setelah virus masuk, makrofag berusaha mem-fagositosis virus tersebut, kemudian sisa-sisa antigen yang masih ada menjadi pirogen eksogen. Pirogen eksogen ini kemudian merangsang leukosit untuk mensekresi salah satu mediatornya, yaitu pirogen endogen berupa interleukin 1 (IL-1). IL-1 ini kemudian di hipotalamus, yang merupakan pusat pengaturan suhu, merangsang metabolisme asam arachidonat yang kemudian menghasilkan prostaglandin E2 (PG E2). PG E2 inilah yang menyebabkan tubuh mengalami demam (pireksia) dan nyeri.

Reaksi peradangan disebabkan oleh pelepasan mediator, seperti histamin yang menimbulkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas dindingnya, sehingga leukosit dapat lebih mudah bergerak. Leukosit kemudian bergerak ke pinggir pembuluh darah kemudian pindah ke jaringan. Akibat dari vasodilatasi, cairan edema berkumpul dalam area trauma dan fibrin membentuk jaringan, menyumbat saluran limfatik untuk menghambat penyebaran organisme.

Reaksi panas atau demam dan radang memang termasuk dapat digolongkan dalam kejadian ikutan pasca imunisasi, tetapi secara umum reaksi tersebut merupakan reaksi fisiologis yang wajar pada setiap kejadian “memasukkan patogen” ke dalam tubuh. Jadi, hanya perlu terapi ringan untuk menurunkan demam dan mengatasi radang. Sehingga, imunisasi tidak perlu gagal dilaksanakan hanya karena kejadian tersebut dapat terjadi pasca imunisasi, karena risiko apabila terinfeksi patogen tersebut jauh lebih besat dan menimbulkan efek yang jauh lebih berbahaya daripada hanya sekedar demam dan radang.

Faktor yang mempengaruhi keberhasilan imunisasi secara ringkas ada tiga faktor:

  1. Faktor pejamu

Berupa status gizi pejamu serta kondisi kesehatan pejamu saat diimunisasi. Intinya, antibodi adalah protein. Apabila anak mengalami kurang gizi, maka bahan untuk membuat antibodi ini tidak ada, sehingga tidak terjadi sintesis antibodi yang adekuat.

Setiap jenis imunisasi mempunyai kontraindikasi tertentu untuk diberikan, misalnya pada anak yang sakit atau anak dengan imunodefisiensi.

  1. Kuantitas dan kualitas vaksin

Vaksin harus memenuhi syarat kuantitas agar sesuai dosis sehingga efektif dan berkualitas (tidak terkontaminasi, dan lain sebagainya).

  1. Prosedur pelaksanaan imunisasi

Pelaksana imunisasi harus melaksanakan imunisasi sesuai dengan prosedur terhindar dari kejadian ikutan pasca imunisasi.

Efikasi vaksin campak, menurut salah satu referensi, tidak mencapai 100%. Jadi, seseorang yang telah diimunisasi masih mempunyai kemungkinan untuk terinfeksi ulang, namun dengan risiko komplikasi yang jauh lebih kecil daripada orang yang belum diimunisasi. Kemungkinan yang kedua adalah imunisasi yang dahulu dilaksanakan tidak berhasil akibat faktor-faktor tertentu seperti diatas. Kemungkinan ketiga adalah kesalahan diagnosis pada infeksi kedua atau pasca imunisasi. Beberapa penyakit dengan manifestasi klinis serupa dengan campak, misalnya campak Jerman (rubella), sehingga seringkali penetapan diagnosis infeksi campak yang kedua kali merupakan kesalahan diagnosis. Sebenarnya bukan terinfeksi campak untuk yang kedua kalinya, namun terinfeksi campak Jerman. Walaupun manifestasi klinisnya mirip, kedua penyakit ini mempunyai penyebab virus yang berbeda, sehingga imunisasinya berbeda, begitu pula dengan antigennya.

Anak yang telah diimunisasi campak atau pernah menderita campak, telah mempunyai antibodi terhadap antigen virus campak. Ada sedikit pro-kontra tentang antigen campak. Ada yang menyebutkan bahwa campak hanya memiliki satu antigen, tetapi referensi lain menyebutkan ada beberapa strain yang digunakan untuk imunisasi, namun saat ini yang digunakan adalah strain Schwarz. Namun secara umum, disetujui bahwa apabila seseorang telah diimunisasi campak atau pernah menderita campak, maka orang tersebut tidak akan mengalami campak lagi seumur hidup

Karena belum pernah terinfeksi campak atau diimunisasi campak, Ali belum mempunyai antibodi yang spesifik untuk virus campak. Karena itu, Ali sebaiknya segera diimunisasi sebelum benar-benar terinfeksi campak. Sebaiknya, Ali tidak bermain lebih dahulu dengan Udin. Sementara Udin sebaiknya beristirahat di rumah untuk mempercepat penyembuhan. Untuk Udin diberikan terapi sesuai simptom yang timbul. Misalkan Udin panas maka diberi antipiretik, dan seterusnya apabila timbul gejala-gejala yang lain.

BAB IV

PENUTUP

A.  KESIMPULAN

  1. Vaksin campak diberikan saat anak berusia 9 bulan, karena pada usia tersebut kekebalan bawaan yang didapat dari ibu sudah berkurang.
  2. Panas dan radang adalah mekanisme fisiologis akibat masuknya antigen pada proses imunisasi.
  3. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan imunisasi dibagi menjadi faktor pejamu, faktor vaksin itu sendiri, dan proses pelaksanaan imunisasi.
  4. Kemungkinan infeksi campak berulang terjadi karena efikasi vaksin tidak 100%, tidak berhasilnya imunisasi karena faktor tertentu, dan kesalahan diagnosis (sebenarnya bukan campak, hanya penyakit yang lain yang mirip dengan campak).

B.  SARAN

  1. Sebaiknya Ali segera diimunisasi sebelum tertular campak. Namun sebelum diimunisasi, harus dipastikan bahwa Ali benar-benar sehat.
  2. Sebaiknya Udin tidak bermain di luar rumah, lebih banyak istirahat dan dilaksanakan terapi sesuai dengan simptom.

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja, Karnen G. 2006. Imunologi Dasar Edisi Ke Tujuh. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran FKUI.

Brooks, Geo F. Butel, Janet S. Morse, Stephen A. 2005. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 21. Jakarta: Salemba Medika.

Hassan, Rusepno. Alatas, Husein. 1985. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI.

Tjay, T.H. Rahardja, Kirana. 2006. Obat-obat Penting: Khasiat, Penggunaan, dan Efek Sampingnya. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia

Categories: Imunologi | Tags: , , , | Leave a comment