Interna

Field Lab: Pelaksanaan Program Imunisasi di Puskesmas Polokarto Kabupaten Sukoharjo

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Imunisasi atau vaksinasi adalah prosedur untuk meningkatkan derajat imunitas, memberikan imunitas protektif dengan menginduksi respon memori terhadap patogen tertentu/toksin dengan menggunakan preparat antigen nonvirulen/nontoksik (Baratawidjaja, 2006).

Pemerintah sebenarnya tidak mewajibkan berbagai jenis imunisasi harus dilakukan semua. Hanya lima jenis imunisasi pada anak di bawah satu tahun yang harus dilakukan, yakni BCG (bacillus calmette-guerin), DPT (difteri pertusis tetanus), polio, campak, dan hepatitis B (Depkes RI, 2005).

Pembelajaran Field Lab merupakan salah satu cara membekali mahasiswa, agar pada saatnya nanti mahasiswa telah siap berorientasi penuh pada masyarakat. Mahasiswa memperoleh berbagai tambahan ilmu dengan observasi langsung di lapangan, bukan hanya teoritis di dalam kuliah. Dengan mengikuti pembelajaran Field Lab, mahasiswa dapat membekali diri dengan dasar teori baik untuk pembelajaran formal dalam akademis maupun keterampilan dalam pelaksanaan program imunisasi yang nantinya akan sangat berguna pada saat terjun ke lapangan ditengah-tengah masyarakat.

  1. B. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa diharapkan mampu melakukan imunisasi. Adapun learning outcome pembelajaran ini adalah diharapkan mahasiswa:

  1. Mampu menjelaskan tentang dasar-dasar imunisasi dan imunisasi dasar di Indonesia.
  2. Mampu melakukan menajemen program dan prosedur imunisasi dasar bayi dan balita, anak sekolah, ibu hamil, dan calon pengantin wanita di Puskesmas mulai perencanaan, cold chain vaksin, pelaksanaan (termasuk penanganan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi/ KIPI), pelaporan, dan evaluasi.

BAB II

KEGIATAN YANG DILAKUKAN

  1. A. KEGIATAN HARI PERTAMA

Kegiatan Field Lab hari pertama dilaksanakan pada tanggal 17 April 2009 di Puskesmas Polokarto. Pada kegiatan hari pertama, mahasiswa diberikan pembekalan kegiatan Field Lab oleh instruktur lapangan, dan evaluasi awal tentang hasil pembelajaran dari Buku Rencana Kerja (BRK) yang telah dibuat. Kemudian mahasiswa berdiskusi dengan instruktur, Kepala Puskesmas Polokarto, dr. Bambang Saptono, dan pembimbing, yaitu dr. Arsita, dan Bapak Slamet tentang teknis pelaksanaan imunisasi di lapangan. Selain itu mahasiswa juga diberi pengarahan tentang teknis pengelolaan peralatan vaksin dan rantai vaksin di Puskesmas Polokarto. Selanjutnya mahasiswa melakukan observasi terhadap peralatan vaksin dan rantai vaksin di Puskesmas, berupa lemari es, vaccine carrier, spuit disposable dan non-disposable, termos, cool pack, dan cold box. Dalam penyimpanan di lemari es, vaksin yang sensitif terhadap panas (BCG, Campak, dan Polio) dan sensitif terhadap dingin (DT, TT, DPT, Hepatitis B) dipisahkan letaknya. Pelaksanaan imunisasi di Puskesmas Polokarto menggunakan jenis vaksin combo, yaitu berupa DPT/Hepatitis B. Namun, pihak Puskesmas tetap menyediakan vaksin uniject, untuk persiapan apabila dijumpai pasien yang hanya memerlukan satu jenis imunisasi, misalnya DPT saja atau Hepatitis B saja.

  1. B. KEGIATAN HARI KEDUA

Pada tanggal 24 April 2009 mahasiswa melaksanakan observasi di Puskesmas Pembantu Polokarto. Kegiatan Field Lab hari kedua ini kebetulan bertepatan dengan jadwal imunisasi di Puskesmas Pembantu Polokarto, yaitu setiap hari Jumat pada minggu kedua dan keempat setiap bulannya. Sebelum mengamati proses imunisasi, sambil menunggu kedatangan pasien, mahasiswa terlebih dahulu mengunjungi ruang penyimpanan vaksin. Mahasiswa diberi penjelasan tentang cara membawa vaksin dari lemari es hingga di ruangan imunisasi di Puskesmas atau bila imunisasi dilaksanakan di Posyandu di luar ruangan atau Puskesmas. Setelah pasien mulai berdatangan, mahasiswa segera menuju ruang tempat pelaksanaan imunisasi di Puskesmas Pembantu Polokarto. Ruang pelaksanaan imunisasi di Puskesmas Pembantu Polokarto tidak berdiri sendiri, namun menjadi satu dengan ruang Kesehatan Ibu dan Anak, sehingga tujuan pasien yang datang sangat variatif, ada pasien yang datang untuk berobat, ada juga pasien yang datang untuk tujuan imunisasi. Agar tidak berdesakan, setiap tiga mahasiswa mengobservasi tiga pasien imunisasi. Mahasiswa tidak melakukan sendiri imunisasi terhadap bayi dan balita, tetapi hanya mengamati proses pelaksanaan imunisasi yang dilaksanakan oleh dr. Arsita dan Ibu Hastuti sebagai juru imunisasi. Hal yang pertama dan terpenting apabila ada pasien yang datang dengan tujuan imunisasi adalah mengetahui usia dan jenis imunisasi yang telah diperoleh. Kemudian setelah itu menanyakan kondisi kesehatan bayi atau balita. Apabila bayi dan balita sehat, sehingga sesuai dengan indikasi imunisasi, maka imunisasi dapat segera dilakukan pada bayi dan balita, asalkan sesuai dengan indikasi masing-masing vaksin. Jenis vaksin yang diberikan di Puskesmas Polokarto adalah vaksin jenis combo atau kombinasi. (jadwal pemberian vaksin dilampirkan)

Data bayi dan balita yang diimunisasi

No

Nama Anak

Usia

Vaksin Yang Diberikan

1

Anggita

35 hari

  1. Polio-1 à diberikan sebanyak 2 tetes, oral
  2. BCG à diberikan pada lengan kanan, secara intrakutan

2

Zakky

9 bulan

  1. Polio-4 à diberikan sebanyak 2 tetes, oral
  2. Campak à diberikan pada lengan kiri, secara subkutan dalam

3

Hanum

2 bulan

  1. Polio-2 à diberikan sebanyak 2 tetes, oral
  2. DPT/Hepatitis B-1 à diberikan pada paha secara intramuscular

BAB III

PEMBAHASAN

Dalam pelaksanaan kegiatan Field Lab mahasiswa melakukan observasi terhadap pelaksanaan imunisasi untuk bayi dan balita. Namun karena tidak bertepatan dengan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), dan kebetulan pada saat observasi tidak ada pasien ibu hamil dan calon pengantin wanita, maka imunisasi untuk anak usia sekolah, ibu hamil, dan calon pengantin wanita tidak dipraktikkan. Namun, secara umum, prosedur pelaksanaan imunisasi untuk semua sasaran diatas sama.

Dalam pelaksanaan Field Lab mahasiswa tidak melakukan proses perencanaan sendiri, tetapi mahasiswa diberi penjelasan tentang prosedur perencanaan imunisasi. Untuk mendapatkan data penduduk, Puskesmas Polokarto Sukoharjo tidak menggunakan data BPS, tetapi menggunakan data langsung dari perangkat pemerintahan desa. Hasil ini terbukti lebih akurat, walaupun hanya mempunyai selisih ± 5% bila dibandingkan dengan data BPS, karena mungkin saja ada bayi atau balita yang lahir di wilayah pelayanan Puskesmas Polokarto Sukoharjo, tetapi kemudian tidak lama setelahnya orangtuanya pindah ke wilayah lain, sehingga jumlah data melebihi fakta yang ada. Untuk menghitung jumlah sasaran bayi, cara yang digunakan adalah:

Jumlah Bayi = 2,1  x  Jumlah Penduduk

prosedur perencanaan imunisasi selengkapnya dilampirkan)

Selain itu, untuk mencegah kekurangan vaksin, dalam penghitungan, indeks pemakaian vaksin (IP Vaksin) diturunkan. Misalkan, apabila satu vial atau ampul  sebenarnya memiliki 5 dosis, diturunkan menjadi hanya 4. Jadi, masih ada sisa vaksin sebagai dasar perhitungan untuk mencadangkan vaksin. Setelah IP Vaksin dikurangi, kebutuhan vaksin ditambahkan 10% dari angka yang didapatkan, sehingga rencana kebutuhan vaksin yang dikirimkan kepada pemerintah provinsi atau pusat diusahakan untuk tidak sampai terjadi kekurangan.

Secara praktis, pengelolaan vaksin di Puskesmas memiliki berbagai kendala, terutama keterbatasan dana, baik di Puskesmas Polokarto maupun Puskesmas Pembantu Polokarto. Terdapat 2 unit lemari es di Puskesmas Polokarto, namun 1 unit lemari es sudah tidak berfungsi secara maksimal, karena di dalamnya dapat timbul bunga es. Kendala lain yang belum sesuai dengan teori mungkin adalah letak lemari es yang belum mempunyai ruangan sendiri, yaitu berada di dekat toilet. Sebaiknya, disediakan ruangan khusus untuk menyimpan vaksin, untuk meminimalkan kontaminasi bahan yang dapat merusak vaksin. Sedangkan lemari es di Puskesmas Pembantu Polokarto tidak hanya digunakan untuk menyimpan vaksin, tetapi juga digunakan untuk menyimpan berbagai reagen untuk pemeriksaan laboratorium.

Untuk pengelolaan vaksin di Puskesmas Polokarto, dalam praktiknya apabila dalam keadaan darurat, vaksin yang berada di luar termos atau lemari es masih bisa digunakan, asalkan VVM yang ada pada vial atau ampul masih baik. Namun, sebaiknya bila keadaan tidak mendesak, vaksin tersebut lebih baik tidak digunakan.

Pada pelaksanaan imunisasi di lapangan, jadwal imunisasi ternyata tidak dapat sepenuhnya dilaksanakan tepat waktu. Misalnya, ada pasien yang datang terlambat untuk imunisasi yang seharusnya dilakukan satu bulan sebelumnya. Hal ini bisa dikarenakan bayi sakit pada saat jadwal yang ditetapkan, atau orangtua kurang patuh pada jadwal imunisasi. Apabila dijumpai hal seperti ini, imunisasi yang terlambat tetap diberikan, sesuai dengan usia bayi dan balita yang datang. Yang terpenting adalah imunisasi tidak boleh diberikan apabila usia bayi atau balita belum cukup untuk mendapatkan imunisasi tersebut. Intinya, imunisasi terlambat tidak apa-apa, namun imunisasi tidak boleh diberikan sebelum waktunya.

BAB IV

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Pelaksanaan kegiatan Field Lab dengan topik Program Imunisasi di Puskesmas Polokarto Kabupaten Sukoharjo sudah berlangsung baik dan edukatif. Mahasiswa dapat mencapai seluruh kompetensi dalam tujuan pembelajaran. Mahasiswa juga menemui berbagai permasalahan teknis di lapangan serta pemecahannya yang tidak didapatkan secara teoritis, sehingga mahasiswa telah memiliki tambahan pengalaman sebagai bekal untuk terjun ke masyarakat dalam tahapan selanjutnya.

  1. B. Saran

1.    Sebaiknya penyuluhan untuk pelaksanaan program imunisasi lebih ditingkatkan lagi, agar pasien yang datang untuk imunisasi tidak hanya bayi dan balita, tetapi juga ibu hamil dan calon pengantin wanita.

2.    Sebaiknya apabila memungkinkan Puskesmas mengajukan penambahan anggaran pada tahun mendatang untuk memperbaiki peralatan pengelolaan vaksin ataupun perbaikan ruangan imunisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja, Karnen G. 2006. Imunologi Dasar Edisi ke Tujuh. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Departemen Kesehatan RI. 2005. Jangan Mengabaikan Jadwal Imunisasi!. Akses di http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=983&Itemid=2. tanggal 28 April 2008, 19:46.

Tim Field Lab FK UNS dan UPTD Puskesmas Sibela Surakarta. 2009. Manual Field Lab Program Imunisasi. Surakarta: Field Lab FK UNS.

Categories: Imunologi | Tags: | Leave a comment

Diagnosis dan Patofisiologi Diare Akut Terkait Dengan Infeksi

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. LATAR BELAKANG

Diare (menurut WHO, 1980) adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari. Apabila frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya serta berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu maka hal ini disebut diare akut (Setiawan, 2007). Diare merupakan salah satu manifestasi klinis dari banyak penyakit, dan mempunyai berbagai etiologi yang bervariasi pula. Karena itu diagnosis yang akurat diperlukan agar dapat menentukan penatalaksanaan yang paling tepat.

Berikut ini adalah permasalahan dalam skenario 1:

Seorang anak umur 6 tahun dibawa ke RS dengan keluhan sejak 4 hari yang lalu BAB dengan  tinja lembek diserai lendir dan darah lebih dari 5x/hari. Keluhan disertai panas, sakit perut, dan mual muntah. Tidak ada batuk pilek atau nyeri telan. Sudah 2 hari ini penderita tidak mau makan dan minum sehingga kondisinya lemah. Sudah makan obat diapet tetapi masih belum sembuh.

Dari anamnesa didapatkan: vital sign: T 110/70, N=120x/menit, R:24x/menit, suhu: 39,2°C. Pemeriksaan abdomen: inspeksi normal, auskultasi hiperperistaltik, palpasi: nyeri tekan region kanan bawah. Perkusi: hipertimpani. Nyeri tekan lepas titik Mc Burney (-). Kemudian dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium darah dan tinja untuk melihat kemungkinan agen penyebabnya.

  1. B. RUMUSAN MASALAH
    1. Mengapa dapat timbul manifestasi klinis pada pasien tersebut?
    2. Mengapa pasien tetap diare, padahal sudah minum obat diapet?
    3. Apakah pertimbangan yang didapatkan dari hasil anamnesis dan interpretasi dari hasil pemeriksaan yang telah didapatkan?
    4. Apakah diagnosis banding untuk kasus?
    5. Bagaimana patogenesis dan patofisiologi penyakit dalam kasus?
    6. Bagaimana penatalaksanaan pasien dalam kasus?
  2. C. TUJUAN PENULISAN
  • Menjelaskan berbagai macam agen infeksius: morfologi, sifat, daur hidup, habitat, dan asalnya.
  • Menjelaskan patogenesis dan patofisiologi penyakit mulai dari masuknya agen infeksius hingga muncul gejala klinis.
  • Menjelaskan komplikasi, prognosis, dan penegakan diagnosis penyakit infeksi.
  • Menjelaskan penatalaksanaan penyakit infeksi (cara pencegahan, pengobatan, perawatan, dan rehabilitasi).
  1. D. MANFAAT PENULISAN
  • Mahasiswa mampu menetapkan diagnosis atau Differential Diagnosis penyakit infeksi berdasarkan pemeriksaan fisik, dan investigasi tambahan yang sederhana, seperti pemeriksaan laboratorium.
  • Mahasiswa mampu menjelaskan secara patofisiologi masing-masing penyakit tropis secara biomedik.
  • Mahasiswa mampu melakukan pencegahan primer dan sekunder pada penyakit infeksi.
  1. E. HIPOTESIS

Pasien mengalami diare akut akibat infeksi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Diare Akut Akibat Infeksi

Berdasarkan mekanismenya, diare dibedakan menjadi dua, yaitu diare akibat gangguan absorbsi dan diare akibat gangguan sekresi. Menurut lamanya, diare dibedakan menjadi diare akut yang berlangsung kurang dari 14 hari, diare persisten yang berlangsung lebih dari 14 hari, dan diare kronik berlangsung lebih dari 14 hari dan berlangsung intermitten (Soebagyo, 2008)

Diare akut disebabkan 90% oleh infeksi bakteri dan parasit sedangkan yang lain dapat disebabkan oleh obat-obatan dan bahan-bahan toksik. Diare ditularkan fekal oral. Faktor penentu terjadinya diare akut sangat dipengaruhi oleh faktor pejamu (host), yaitu faktor yang berkaitan dengan kemampuan pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme dan faktor penyebab (agent), yang berkaitan dengan kemampuan mikroorganisme dalam menyerang sistem pertahanan tubuh host.

Patogenesis diare yang disebabkan oleh bakteri adalah :

Bakteri masuk melalui makanan atau minumanà ke lambungà sebagian ada yang mati karena asam lambung dan sebagian lolosà bakteri yang lolos masuk ke duodenumà bakteri berkembang biak (di duodenum)à memproduksi enzim mucinase sehingga berhasil mencairkan lapisan lendir dengan menutupi permukaan sel epitel ususà bakteri masuk ke dalam membrane à bakteri mengeluarkan toksinà mengeluarkan CAMP (meningkatkannya), yang berfungsi untuk merangsang sekresi cairan usus dibagian kripta villi & menghambat cairan usus dibagian apikal villià terjadi rangsangan cairan yang berlebihan, volume cairan didalam lumen usus meningkatà dinding usus berkontraksià terjadi hiperperistaltikà cairan keluar (diare).

Untuk diare akut, patogenesis diare yang disebabkan oleh bakteri dibedakan menjadi dua: bakteri non invasif, yaitu bakteri yang memproduksi toksin yang nantinya toksin tersebut hanya melekat pada mukosa usus halus & tidak merusak mukosa. Bakteri non invasif, memberikan keluhan diare seperti air cucian beras dan disebabkan oleh bakteri enteroinvasif, yaitu diare yang menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi, secara klinis berupa diare bercampur lendir dan darah.

Patogenesis diare yang disebabkan oleh virus adalah :

Virus masuk melalui makanan & minuman ke tubuhà masuk ke sel epitel usus halusà terjadi infeksià sel-sel epitel yang rusak digantikan oleh enterosit (tapi belum matang sehingga belum dapat menjalankan fungsinya dengan baik)à villi mengalami atrofi & tidak dapat mengabsorbsi cairan & makanan dengan baikà meningkatkan tekanan koloid osmotik ususà hiperperistaltik ususà cairan& makanan yang tidak terserap terdorong keluar. Manifestasi klinis diare yang disebabkan oleh virus diantaranya adalah : diare akut, demam, nyeri perut, dehidrasi (Setiawan, 2007; Hiswani, 2003)

Pembagian diare akut berdasarkan proses patofisiologi enteric infection, yaitu membagi diare akut atas mekanisme inflamatory, non inflammatory, dan penetrating.

Inflamatory diarrhea akibat proses invasi dan cytotoxin di kolon dengan manifestasi sindroma disentri dengan diare yang disertai lendir dan darah. Gejala klinis umumnya adalah keluhan abdominal seperti mulas sampai nyeri seperti kolik, mual, muntah, demam, tenesmus, serta gejala dan tanda dehidrasi. Pada pemeriksaan tinja rutin, secara makroskopis ditemukan lendir dan/ atau darah, secara mikroskopis didapati leukosit polimorfonuklear.
Non inflamatory diarrhea kelainan yang ditemukan di usus halus bagian proksimal. Proses diare adalah akibat adanya enterotoksin yang mengakibatkan diare cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan darah, yang disebut dengan Watery diarrhea. Keluhan abdominal biasanya minimal atau tidak ada sama sekali, namun gejala dan tanda dehidrasi cepat timbul, terutama pada kasus yang tidak segera mendapat cairan pengganti. Pada pemeriksaan tinja secara rutin tidak ditemukan leukosit. Mikroorganisme penyebab seperti, V.cholerae, Enterotoxigenic E.coli (ETEC), Salmonella.
Penetrating diarrhea lokasi pada bagian distal usus halus. Penyakit ini disebut juga Enteric fever, Chronic Septicemia, dengan gejala klinis demam disertai diare. Pada pemeriksaan tinja secara rutin didapati leukosit mononuclear. Mikroorganisme penyebab biasanya S. thypi, S. parathypi A, B, S. enteritidis, S. cholerasuis, Y. enterocolitidea, dan C. fetus.

(Zein, 2004).

B. Diagnosis Banding

Diare akut akibat infeksi dapat ditegakkan diagnosis etiologi bila anamnesis, manifetasi klinis, dan pemeriksaan penunjang menyokongnya. Beberapa petunjuk anamnesis yang mungkin dapat membantu diagnosis: 1) bentuk feses; 2) makanan dan minuman 6-24 jam terakhir yang dikonsumsi penderita; 3) adakah orang disekitarnya yang menderita hal serupa; 4) dimana tempat tinggal penderita; serta 5) siapa penderita tersebut (Setiawan, 2007).

Beberapa agen infeksi yang dapat menyebabkan diare inflamasi antara lain dari golongan protozoa adalah Entamoeba hystolitica dan dari golongan cacing adalah cacing cambuk.

  • Entamoeba hystolitica

Infeksi terjadi karena tertelannya kista dalam makanan dan minuman yang terkontaminasi tinja. Kista yang tertelan mengeluarkan trofozoit dalam usus besar dan memasuki submukosa (Chandrasoma dan Taylor, 2006).

Patogenesis dan patologi. Masa inkubasi dapat terjadi dalam beberapa hari hingga beberapa bulan. Amebiasis dapat berlangsung tanpa gejala (asimptomatik). Gejala bervariasi, mulai rasa tidak enak di perut hingga diare. Gejala yang khas adalah sindroma disentri, yakni kumpulan gejala gangguan pencernaan yang meliputi diare berlendir dan berdarah disertai tenesmus.

Diagnosis. Selain menilai gejala dan tanda, diagnosis amebiasis yang akurat membutuhkan pemeriksaan tinja untuk mengidentifikasi bentuk trofozoit dan kista. Metode yang paling disukai adalah teknik konsentrasi dan pembuatan sediaan permanen dengan trichom stain. Untuk screening cukup menggunakan sediaan basah dengan bahan saline dan diwarnai lugol agar terlihat lebih jelas. Selain tinja, spesimen yang dapt diperiksa berasal dari enema, aspirat, dan biopsi (Hemma, 2006).

Penatalaksanaan. Sering digunakan kombinasi obat untuk meningkatkan hasil pengobatan. Walaupun tanpa keluhan dan gejala klinis, sebaiknya diobati, karena amoeba yang hidup sebagai komensal di dalam lumen usus besar, sewaktu-waktu dapat menjadi patogen.

  • Trichuris trichiura

Disebut juga cacing cambuk dan menimbulkan penyakit trikuriasis. Patogenesis dan patologi. terutama hidup di sekum. Pada infeksi berat, terutama pada anak, cacing ini tersebar di seluruh kolon dan rektum, kadang terlihat di mukosa rektum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita pada saat defekasi. Cacing ini memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus, hingga terjadi trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada tempat perlekatannya dapat terjadi perdarahan. Di samping itu, ternyata cacing ini menghisap darah, sehingga menyebabkan anemia.

Diagnosis. Dibuat dengan menemukan telur di dalam tinja.

Penatalaksanaan. Dengan menggunakan mebendazol, albendazol dan oksantel pamoat, infeksi cacing Trichuris dapat diobati dengan hasil yang cukup baik (Margono, 1998)

C. Patogenesis dan Patofisiologi

Reseptor nyeri merupakan ujung saraf bebas, yang terdapat di kulit dan jaringan lain. Rasa nyeri dapat dirasakan melalui berbagai jenis rangsangan, yaitu rangsang nyeri mekanis, suhu, dan kimiawi. Pada umumnya, nyeri cepat diperoleh melalui rangsangan jenis mekanis atau suhu, sedangkan nyeri lambat dapat diperoleh dari ketiganya. Beberapa zat kimia yang merangsang jenis nyeri kimiawi adalah bradikinin, serotonin, histamin, ion kalium, asam asetilkolin, dan enzim proteolitik. Selain itu, prostaglandin dan substansi P meningkatkan sensitivitas ujung-ujung serabut nyeri tetapi tidak secara langsung merangsangnya. Satu zat kimia yang terlihat mengakibatkan rasa nyeri lebih hebat daripada yang lain adalah bradikinin. Intensitas rasa nyeri juga berhubungan erat dengan kecepatan kerusakan jaringan yang disebabkan oleh pengaruh lain selain panas (diatas 45°C), seperti infeksi bakteri, iskemia jaringan, kontusio jaringan, dan lain sebagainya (Guyton dan Hall, 2007).

D. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Tinja.

Pemeriksaan penting dalam tinja ialah terhadap parasit dan telur cacing. Sama pentingnya dalam keadaan tertentu adalah tes terhadap darah samar. Secara makroskopik, warna tinja dapat dipengaruhi oleh jenis makanan, kelainan dalam saluran usus dan oleh obat-obatan yang diberikan. Adanya lendir berarti rangsangan atau radang dinding usus. Jika lendir tersebut berada di bagian luar tinja, lokalisasi iritasi itu mungkin usus besar; jika bercampur baur dengan tinja mungkin sekali usus kecil. Adanya darah dapat menjadi petunjuk lokasi perdarahan. Makin proksimal terjadinya perdarahan, darah bercampur dengan tinja sehingga makin hitam warnanya. Merah muda biasanya oleh perdarahan yang segar di bagian distal. Pada pemeriksaan mikroskopik, usaha mencari protozoa dan cacing merupakan maksud terpenting (Gandasoebrata, 2007).

E. Pencegahan dan Penatalaksanaan

Penatalaksanaan diare akut karena infeksi terdiri atas: 1) rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan, 2) memberikan terapi simtomatik, dan 3) memberikan terapi definitif. Hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat adalah jenis cairan yang akan digunakan, jumlah, jalan masuknya cairan, serta jadwal pemberian cairan. Pada infeksi saluran cerna pencegahan sangat penting. Hygiene perorangan, sanitasi lingkungan, dan imunitas melalui vaksinasi memegang peran. Pada pengobatan amebiasis digunakan Metronidazol, Tinidazol, Secnidazole, atau Tetrasiklin (Setiawan, 2007).

BAB III

PEMBAHASAN

Pasien BAB sejak 4 hari yang lalu dengan tinja lembek disertai lendir dan darah lebih dari 5x/hari. Frekuensi, rentang waktu, dan konsistensi dari feses telah menunjukkan bahwa pasien tersebut mengalami diare akut. Adanya lendir dan darah menunjukkan adanya peradangan pada traktus gastrointestinal (GIT), terutama usus halus. Diare dengan lendir dan darah ini dapat terjadi pada infeksi E. hystolitica, T. trichiura, cacing tambang, dan A. lumbricoides. Mekanisme peradangan sebagai efek dari infeksi ini dapat menjadi rujukan terjadinya infeksi, karena hal ini juga diperkuat oleh terjadinya keluhan panas. Seperti mekanisme infeksi pada umumnya, panas atau demam ini terjadi akibat adanya rangsangan terhadap metabolisme asam arachidonat, yang berakibat peningkatan PGE2 sehingga bekerja di hipotalamus. Rangsangan terhadap metabolisme asam arachidonat ini dilakukan oleh pirogen endogen (IL-1) sebagai akibat rangsangan oleh pirogen eksogen yang ada pada agen infeksius. Selanjutnya, set point suhu pada hipotalamus menjadi kacau, sehingga tubuh berusaha untuk mencapai set point “palsu” tersebut dengan mekanisme demam sebagai salah satu usaha termogenesis.

Sakit perut yang dialami pasien adalah salah satu manifestasi akibat adanya iritasi mukosa GIT. Adanya infeksi mengakibatkan rilis mediator proinflamasi, diantaranya bradikinin, serotonin, dan histamin (terutama bradikinin) yang kemudian merangsang ujung bebas dari reseptor nyeri dan menimbulkan rasa nyeri perut. Mual muntah juga menjadi indikasi adanya peradangan mukosa GIT, yang akibat impuls iritatif berupa mual yang disampaikan ke pusat muntah di batang otak ini kemudian terjadi respon berupa gerakan muntah yang kemudian disampaikan ke diafragma dan otot abdomen. Penderita tidak mau makan dan minum, hal ini mungkin dapat disebabkan karena rilis serotonin yang menekan pusat lapar di area hipotalamus lateral, tepatnya di nukleus dorsomedial dan arkuata di bagian posterior. Sebab lain yang mungkin adalah traktus GIT yang teregang akibat kontriksi sebagai akibat rilis mediator proinflamasi. Sinyal inhibisi yang teregang akan dihantarkan, terutama melalui nervus vagus untuk menekan pusat makan, sehingga nafsu makan akan berkurang. Sebagai konsekuensi kurangnya asupan nutrisi, maka kondisi pasien lemah.

Pasien sudah makan obat diapet tetapi belum sembuh. Mekanisme obat antidiare sendiri dibagi menjadi 2, yaitu 1) menghambat peristaltik usus (contohnya obat Imodium) dan 2) absorbent, yaitu menyerap cairan dan toksin (contohnya obat new diatab, diapet). Penggunaan obat jenis absorbent ini malah dapat menghambat ekskresi kuman, sehingga agen infeksius penyebab diare masih tetap berada dalam traktus GIT, sehingga infeksi dapat terus berlangsung.

Dari anamnesa, didapatkan pasien adalah keluarga buruh bangunan dan anak tersebut suka bermain tanah dan kadang minum air mentah. Dari keterangan ini, kemungkinan besar keluarga pasien tidak mendapatkan edukasi tentang sanitasi yang baik, sehingga anak tersebut tidak dilarang minum air mentah. Padahal, kebiasaan meminum air mentah mengandung risiko besar tertular penyakit amebiasis dan trichuriasis. Sementara dari kebiasaan anak tersebut bermain tanah, dapat dicurigai anak tersebut menderita askariasis atau ancylostomiasis.

Hasil pemeriksaan fisik. Hipotensi (T=110/90 mmHg) hal ini terjadi karena pasien mungkin mengalami syok akibat dehidrasi. Takikardi (N=120x/menit) terjadi akibat kompensasi tubuh untuk mengatasi keadaan syok. Takipneu (R=24x/menit) juga terjadi akibat mekanisme kompensasi tubuh seperti halnya takikardi. Suhu tubuh meningkat (39,2°C), hal ini terjadi akibat mekanisme demam yang sudah dijelaskan sebelumnya. Hiperperistaltik terjadi akibat adanya gangguan motilitas usus. Nyeri tekan regio kanan bawah menjadi salah satu dasar diagnosis banding dengan apendisitis akut. Namun, karena nyeri tekan lepas titik McBurney (-), maka hal ini dapat menggugurkan dugaan adanya apendisitis. Infeksi Ascaris lumbricoides juga mempunyai manifestasi klinis apendisitis, karena itu hasil tersebut dapat menggugurkan diagnosis ascariasis.

Dokter menyarankan pemeriksaan laboratorium darah dan tinja untuk melihat kemungkinan agent penyebabnya. Pada diagnosis berbagai jenis infeksi parasit, gold standard dari pemeriksaan penyakit tersebut adalah menemukan parasit atau telurnya dalam pemeriksaan tinja atau darah. Apabila telah didapatkan hasil pemeriksaan darah dan tinja, maka baru dapat ditarik diagnosis pasti dari penyakit infeksi parasit tersebut.

BAB IV

PENUTUP

A.  KESIMPULAN

  1. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan sementara yang telah dilakukan, pasien menderita infeksi ameba (amebiasis). Namun diagnosis pasti belum dapat ditegakkan selama belum ditemukannya parasit dalam tinja atau darah (dalam hal ini tinja) sebagai Gold Standard pemeriksaan infeksi parasit.

B.  SARAN

  1. Sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan darah dan tinja agar dapat ditemukan adanya telur atau parasit dalam stadium tertentu sebagai gold standard pemeriksaan parasit.
  2. Sebaiknya tingkat sanitasi dari keluarga pasien lebih ditingkatkan, hal ini dapat dibantu oleh petugas kesehatan setempat dalam mengingatkan pentingnya kebersihan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Chandrasoma dan Taylor. 2006. Ringkasan Patologi Anatomi Edisi 2. Jakarta: EGC.

Gandasoebrata, R. 2007. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian Rakyat.

Guyton, Arthur C. Hall, John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC.

Hemma, Yulfi. 2006. Protozoa Intestinalis. Diakses pada 1 Juni 2009, 14.55. http://library.usu.ac.id/download/fk/06001187.pdf.

Hiswani.2003.Diare Merupakan Salah Satu Masalah Kesehatan Masyarakat Yang Kejadiannya Sangat Erat Dengan Keadaan Sanitasi Lingkungan. http://209.85.175.104/search?q=cache:zsj5KrN_psgJ:library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani7.pdf+patogenesis+diare+filetype:pdf&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id&lr=lang_id

Mansur, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga JIlid 1. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.

Margono, Sri S. 1998. Nematoda dalam Gandahusada, S. Ilahude, H. Pribadi, Wita. Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta: FK UI.

Setiawan, Budi. 2007. Diare Akut Karena Infeksi dalam Sudoyo, Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Soebagyo, B. 2008. Diare Akut pada Anak. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Sutadi, Sri Maryani. 2003. Diare Kronik. Diakses di: http://72.14.235.104/search?q=cache:mWVOpJ8NsEoJ:library.usu.ac.id/download/fk/penydalam-srimaryani2.pdf+diare+filetype:pdf&hl=id&ct=clnk&cd=4&gl=id&lr=lang_id

Zein, Umar. 2004. Diare Akut Infeksius Pada Dewasa. http://library.usu.ac.id/download/fk/penydalam-umar4.pdf. (diakses pada 1 Juni 2009, jam 14.30).

Categories: Infeksi dan Penyakit Tropis | Tags: , | 4 Comments