Biomolekuler

Faktor Hereditas dan Kaitannya Dengan Aspek Biologi Molekuler Pada Kasus Cleft Lip and Palate (Labiognathopalatoschisis)

BAB I

PENDAHULUAN

A.        LATAR BELAKANG

Labiognatopalatoschisis atau Cleft Lip and  Palate (CLP) adalah kelainan bawaan yang timbul pada saat pembentukan janin sehingga ada celah antara kedua sisi bibir hingga langit-langit dan bahkan cuping hidung. (Wikipedia, 2008). Dalam bahasa Indonesia, kelainan ini sering disebut dengan bibir sumbing. Kelainan ini dapat berupa celah pada bibir (cleft lip), celah pada palatum atau langit-langit mulut (cleft palate), atau gabungan dari keduanya (cleft lip and palate). Kelainan ini disebabkan oleh kelainan genetik yang berpengaruh pada tahap pembentukan embrio, sehingga terdapat kelainan yang muncul setelah kelahiran. CLP adalah kelainan multifaktoral, jadi kemunculannya dipengaruhi oleh faktor gen dan lingkungan.

Berikut ini permasalahan dalam skenario 2 :

Seorang ibu memeriksakan anaknya yang berusia 1 bulan. Dokter memeriksa dan kemudian menyatakan bahwa anak tersebut menderita labiognathopalatoschisis. Pada waktu hamil ibu tersebut tidak pernah memeriksakan kehamilannya. Diketahui bahwa suami ibu tersebut adalah seorang perokok berat. Dokter mengatakan bahwa kecacatan tersebut dapat diperbaiki dengan cara operasi plastik. Kebetulan di RSDM sedang mengadakan operasi gratis untuk penyakit tersebut.

Dalam laporan ini penulis akan mencoba menganalisis kelainan labiognathopalatoschisis (CLP) dari faktor hereditas dan kaitannya dengan aspek biologi molekuler, untuk mengetahui apakah kelainan labiognathopalatoschisis (CLP) mempunyai kaitan dengan faktor herediter.

B.        RUMUSAN MASALAH

1. Apa saja multifaktor penyebab CLP?

2. Apa kaitan paparan asap rokok dengan terjadinya CLP?

3. Adakah kaitan CLP dengan faktor herediter?

4. Apa saja metode yang digunakan untuk mendeteksi dini CLP?

5. Apakah dasar terapi bagi penderita CLP?

6. Apakah pengaruh konsultasi prenatal dengan kondisi kesehatan janin?

C.        TUJUAN PENULISAN

1. Mengetahui multifaktor penyebab CLP.

2. Mengetahui kaitan paparan asap rokok dengan terjadinya CLP.

3. Mengetahui kaitan CLP dengan faktor herediter.

4.  Mengetahui metode yang digunakan untuk mendeteksi dini CLP.

5. Mengetahui dasar terapi bagi penderita CLP.

6. Mengetahui pengaruh konsultasi prenatal dengan kondisi kesehatan janin.

D.        MANFAAT PENULISAN

  • Mahasiswa mempelajari kaitan aspek biologi molekuler dalam kelainan genetik CLP.
  • Mahasiswa belajar mencari dasar dan kaitan faktor hereditas dengan kelainan genetik CLP.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.        Patogenesis dan Patofisiologi Cleft Lip and Palate

CLP adalah kelainan bentuk fisik pada wajah akibat pembentukan abnormal pada wajah fetus selama kehamilan. Pembentukan wajah tersebut berlangsung dalam 6 hingga 8 minggu pertama kehamilan. (Wikipedia, 2008). CLP dapat timbul tersendiri atau muncul sebagai salah satu bagian dari syndrome. (Emedicine, 2000). Dari seluruh kasus CLP, 70% diantaranya adalah kasus CLP tersendiri (isolated cleft lip and palate), dan bukan salah satu bagian dari syndrome tertentu. (Chakravarti, 2004). Beberapa syndrome yang terkait dengan CLP adalah 22q11.2 deletion syndrome, Patau syndrome (trisomi 13) dan Van der Woude syndrome. (MedlinePlus, 2008; Wikipedia, 2008).

Kelainan kongenital muncul dari gabungan antara faktor multigenetik dan faktor lingkungan. (Zucchero, et.al., 2004). Isolated cleft disebabkan oleh multigen dan atau pengaruh faktor lingkungan. Walaupun gen memiliki peran penting, dalam embryogenesis wajah, faktor lingkungan berperan sama penting. Ada tiga kategori faktor lingkungan yang berpengaruh dalam pembentukan janin, yaitu teratogen, infeksi, dan nutrien serta metabolisme kolesterol. Ibu hamil yang merokok menjadi faktor penting penyebab CLP. Teratogen lainnya yang meningkatkan risiko CLP diantaranya adalah obat-obatan, seperti anticonvulsant phenytoin dan benzodiazepines, atau pestisida, seperti dioxin. (Murray dan Schutte, 2004).

Morfogenesis fasial dimulai dengan migrasi sel-sel neural crest ke dalam  regio fasial, remodeling matriks ekstraseluler, proliferasi dan differensiasi sel-sel neural, crest untuk membentuk jaringan otot dan pengikat, penggabungan antar komponen, dan pada bibir atas terjadi merger procesus maksilaris & nasalis medialis pada minggu VI kehamilan. Pembentukan palatum primer dari procesus nasalis medialis, dan pembentukan palatum sekunder dari procesus palatal sinistra & dekstra pada 8-12 minggu kehamilan. (Tolarova, 2006 ; Young et.al., 2000).

Patofisiologi molekuler secara garis besar terjadi melalui tahap-tahap tertentu, yaitu

(a) defek pembentukan sel-sel neural crest

klas transkripsi faktor homeoboks (AP2, Barx2, goosecoid, Msx1&2, Otx2,Pax7&9 dan Prx1&2).

– perlu untuk ekspresi gen Dlx sepanjang neural tube, ectoderm dan mesenchyme dari neural crest.

(b) Defek proliferasi sel-sel neural crest

– ektoderm berfungsi untuk mempertahankan proliferasi mesenchyme dari neural crest.

protein Sonic hedgehog (SHH) memegang peran

(c) Defek diferensiasi sel-sel neural crest

Famili TGFβ terlibat (1) dalam proliferasi, diferensiasi dan migrasi sel, (2) regulasi deposisi matriks ekstraseluler dan (3) transformasi epitelial-mesensimal.

– analisis genetik: fusi palatal perlu TGFβ.

(d) Defek matriks ekstraseluler

– perkembangan organ fasial melibatkan EGFR signaling: regulasi sekresi matriks metalloproteinase

– TGFα merupakan ligan EGFR. (Young et.al., 2000).

Gen-gen yang telah diketahui menjadi penyebab terjadinya isolated CLP diantaranya adalah IRF6 (sebagai gen yang juga berpengaruh dalam Van der Woude syndrome), P63, PVRL1, TGFA, TBX22, MSX1, FGFR1 dan SATB. Namun mutasi pada IRF6, MSX1, dan FGFR1 umumnya terkait dengan kelainan gigi dan CLP yang terjadi lebih dari satu kali di dalam suatu silsilah keluarga, dalam hal ini ada kemungkinan diturunkan. (Murray and Schutte, 2004). Gen-gen yang telah ditemukan mempunyai interaksi dengan paparan asap rokok dan menyebabkan timbulnya CLP adalah TGFA, MSX1, TGFB3, RARA, P450, GST, dan EPHX. (Murray, 2002).

B.        Dasar Diagnosis Molekuler Cleft Lip and Palate

Dasar diagnosis molekuler CLP sama dengan diagnosis penyakit genetik yang lain, yaitu dengan

  1. Amniocentesis, dilakukan pada kehamilan 14-16 minggu. (Suryo, 2005).
  2. CVS (Chorionic Villus Sampling), dilakukan pada kehamilan 10-13 minggu. Tingkat akurasinya 96-98% lebih rendah dari midtrisemester amniocentesis karena keterbatasan mosaic plasenta dan kontaminasi sel saat kehamilan. (Lewis, 2007).

C.        Dasar Terapi dan Rehabilitasi Cleft Lip and Palate

Operasi CLP dapat dilakukan pada 2-3 bulan pertama pada bayi. Sedangkan operasi perbaikan palatum dilakukan saat bayi telah berusia 6-12 bulan. Sebelum dilaksanakan operasi, bayi memerlukan alat bantu saat makan, minum, atau menyusu. Untuk sementara sebelum operasi, dapat digunakan palatal obturator untuk menutupi celah pada palatum agar bayi tidak tersedak. (Wikipedia, 2008).

BAB III

PEMBAHASAN

Cleft Lip and Palate disebabkan oleh beberapa gen yang telah membawa sifat-sifat tertentu didalamnya. Sebagai kelainan multifaktor, CLP sangat terkait dengan faktor multigen dan juga lingkungan. Sifat genetik CLP yang merupakan faktor internal kemudian dapat dipicu oleh faktor eksternal atau lingkungan seperti paparan asap rokok dan konsumsi alkohol.

Pada kasus dalam skenario 3 terkait paparan asap rokok, gen-gen yang berinteraksi dengan paparan asap rokok dan menyebabkan timbulnya CLP adalah TGFA, MSX1, TGFB3, RARA, P450, GST, dan EPHX. Dalam sel palatum yang sedang berkembang terdapat reseptor tertentu yang bereaksi terhadap senyawa tertentu. Ahr (aryl-hydrocarbon receptor), misalnya, berperan sebagai reseptor dari senyawa aril hidrokarbon yang terdapat dalam asap rokok. (lihat lampiran). Masuknya aril hidrokarbon ini jelas mempengaruhi perkembangan janin, walaupun ibu hamil hanya berperan sebagai perokok pasif. Selain teratogen, infeksi dan nutrisi juga turut berperan dalam perkembangan janin. Kekurangan nutrisi asam folat misalnya, juga menjadi salah satu penyebab bayi lahir dengan cacat kongenital, seperti CLP.

Selanjutnya, karena adanya interaksi gen dengan lingkungan maka fenotip CLP muncul sebagai hasilnya. Apabila gen-gen tertentu telah membawa sifat CLP, namun tidak dipicu oleh faktor eksternal, ada kemungkinan fenotip CLP tidak muncul. Ada pula gen yang memang telah mengalami mutasi sejak awal, yaitu dari orang tuanya. Gen yang telah mengalami mutasi ini akan menurunkan sifat kepada keturunannya. Mutasi tertentu dapat diturunkan, dengan syarat terjadi pada sel gamet (ovum atau spermatozoa). Mutasi pada sel somatik tidak diturunkan.

Metode deteksi dini CLP sama dengan deteksi penyakit genetik yang lain, seperti amniocentesis, CVS, PUBS, dan FISH. Untuk metoode deteksi yang lain seperti Ultrasonografi, yang mengetahui bentuk janin setelah utuh terbentuk, mungkin dapat menjadi persiapan mental bagi calon orangtua, sehingga setelah bayi lahir orangtua sudah siap dengan penanganan khusus yang diperlukan dalam perawatan bayi, atau bahkan mungkin sudah siap dengan tindakan operasi yang selanjutnya dapat dilakukan.

Dasar terapi bagi CLP adalah tindakan operasi, yang dapat dilakukan saat bayi telah mencapai usia 2-3 bulan pertama untuk operasi Cleft Lip, dan 6-12 bulan pertama untuk operasi Cleft Palate. Selanjutnya juga perlu untuk dilakukan terapi berbicara agar anak tidak menemui kesulitan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi dengan sesamanya.

Konsultasi prenatal sangat penting bagi ibu hamil, karena dalam konsultasi calon ibu akan diberikan beberapa saran dan informasi seputar kehamilan dan kesehatan calon ibu dan janinnya. Defisiensi nutrisi, misalnya, akan cepat dapat diketahui dan ditangani sehingga tidak mengganggu perkembangan janin.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A.        Kesimpulan

1.   CLP disebabkan oleh multifaktor, yaitu multigen dan lingkungan.

2.   Paparan asap rokok yang ditangkap oleh reseptor mengganggu perkembangan sel janin sehingga dapat menyebabkan timbulnya CLP.

3.   CLP dapat disebabkan oleh faktor herediter dari gen yang dibawa dari orangtua, namun ada juga yang lebih terkait kepada faktor lingkungan, seperti tertaogen, infeksi, dan nutrisi.

4.   Metode deteksi dini CLP meliputi amniocentesis, CVS, PUBS, dan FISH. Metode deteksi yang lain diantaranya Ultrasonografi (USG).

5.   Dasar terapi bagi penderita CLP adalah tindakan operasi.

6. Konsultasi prenatal mengarahkan calon ibu untuk menjaga kesehatan diri dan janinnya, sehingga dapat mengurangi risiko bayi mengalami cacat kongenital.

B.        Saran :

1.   Anak tersebut dapat dioperasi apabila usianya telah mencapai 2-3 bulan (kurang lebih 10 minggu), dan selama belum dioperasi, perlu perhatian khusus dalam perawatannya.

2.   Setelah operasi, perlu dilakukan terapi bicara agar anak lancar berkomunikasi dengan lingkungannnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Cleft Lip and Palate.

http://en.wikipedia.org/wiki/Cleft_lip_and_palate

Anonim. 2008. Cleft Lip and Palatehttp://www.nlm.nih.gov/medlineplus/cleftlipandpalate.html

Anonim. 2000. Definition of Lip, cleft. http://www.emedicinehealth.com/script/main/art.asp?articlekey=6468

Chakravarti, Aravinda. 2004. Finding Needles in Haystacks — IRF6 Gene Variants in Isolated Cleft Lip or Cleft Palate. http://content.nejm.org/cgi/content/full/351/8/822

Lewis, Rachel .A. 2007.

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000997.htm

Murray, J.C. 2002. Gene/environment causes of cleft lip and/or palate. http://72.14.235.132/search?q=cache:fqKehb_bTBwJ:craniofacialcenter.uiowa.edu/center/clingenet.pdf+cleft,+environmental&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id&client=firefox-a

Murray, Jeffrey C, and Schutte, Brian C. 2004. Cleft palate: players, pathways, and pursuits. http://www.jci.org/articles/view/22154

Suryo. 2005. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Young, D.L. Schneider, R.A. Hu, D. Helms, J.A. 2000. Genetic and teratogenic approaches to craniofacial development. Critical Reviews in Oral Biology & Medicine 11:304-317.

Zucchero, Theresa M. et.al. 2004. Interferon Regulatory Factor 6 (IRF6) Gene Variant and the Risk of Isolated Cleft Lip or Palate. http://content.nejm.org/cgi/content/full/351/8/769

Categories: Biomolekuler | Tags: , , | Leave a comment

Faktor Hereditas dan Kaitannya Dengan Aspek Biologi Molekuler Pada Kasus Down Syndrome

BAB I

PENDAHULUAN

A.        LATAR BELAKANG

Down syndrome adalah kelainan kromosom akibat terdapatnya kromosom tambahan pada kromosom nomor 21. (Wikipedia, 2008). Kelainan ini pertama diketahui oleh Seguin tahun 1844, tetapi tanda klinisnya ditemukan oleh J. Langdon Down tahun 1866. Setelah dibuat kariotipe dari penderita, terdapat kelebihan sebuah autosom nomor 21. (Suryo, 2005).

Penderita Down syndrome biasanya dapat dengan mudah dikenali dari penampakan fisiknya yang khas. Ciri-ciri tersebut diantaranya tubuh pendek dan puntung, lengan atau kaki kadang-kadang bengkok, kepala lebar, wajah membulat, mulut selalu terbuka, ujung lidah besar, hidung besar, hidung lebar dan datar, kedua lubang hidung terpisah lebar, jarak lebar antar kedua mata, kelopak mata mempunyai lipatan epikantus, dan iris mata kadang-kadang berbintik (brushfield). (Suryo, 2005).

Berikut ini permasalahan dalam skenario 2 :

Seorang ibu 37 tahun konsultasi dengan bidan desa, anaknya perempuan berusia 12 bulan dan berat badan 7,5 kg. Perkembangan anak seperti duduk dan tengkurap terlambat. Hasil pemeriksaan bidan menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami keterlambatan perkembangan psikomotor. Setelah dirujuk ke dokter spesialis, hasil pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis anak menunjukkan adanya berbagai ciri fisik penderita Down syndrome. Hasil pemeriksaan kariotipe menunjukkan adanya trisomi 21.

Dalam laporan ini, penulis mencoba menganalisis kelainan Down syndrome terutama dari segi molekuler-genetika, mencari hubungan faktor hereditas dengan Down syndrome, dan terapi Down syndrome.

B.        RUMUSAN MASALAH

  • Bagaimana patogenesis dan patofisiologi molekuler Down syndrome?
  • Apakah Down syndrome terkait faktor herediter?
  • Apa dasar terapi bagi penderita Down syndrome?

C.        TUJUAN PENULISAN

  • Mengetahui patogenesis dan patofosiologi molekuler Down syndrome.
  • Mengetahui kaitan Down syndrome dengan faktor herediter.
  • Mengetahui dasar terapi bagi penderita Down syndrome.

D.        MANFAAT PENULISAN

  • Mahasiswa mempelajari kaitan aspek biologi molekuler dalam kelainan genetik Down syndrome.
  • Mahasiswa belajar mencari dasar dan kaitan faktor hereditas dengan kelainan genetik Down syndrome.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Penyebab Down syndrome adalah trisomi 21 utuh, dengan prosentase 94% dari seluruh kejadian Down syndrome. Mosaik hanya mencapai angka 2,4%, sedangkan angka kejadian translokasi 3,3% dari keseluruhan kejadian Down syndrome. 75% translokasi adalah de novo, sisanya translokasi keturunan. (Chen, 2007).

Pada Down syndrome trisomi 21 (utuh), dapat terjadi tidak hanya pada meiosis pada waktu pembentukan gamet, tetapi juga pada mitosis awal dalam perkembangan zigot, walaupun kejadian yang lebih sering terjadi adalah kejadian yang pertama. Oosit primer yang terhenti perkembangannya saat profase pada meiosis I stasioner pada tahap tersebut sampai terjadi ovulasi, yang jaraknya dapat mencapai hingga 40 sampai 45 tahun. Diantara waktu tersebut, oosit mungkin mengalami disposisi. non-disjunction. Pada kasus Down syndrome, dalam meiosis I menghasilkan ovum yang mengandung dua buah autosom 21, dan apabila dibuahi oleh spermatozoa normal yang membawa autosom 21, maka terbentuk zigot trisomi 21. Non-disjunction ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu 1) adanya virus atau kerusakan akibat radiasi; 2) adanya pengandungan antibodi tiroid yang tinggi; 3) sel telur mengalami kemunduran apabila setelah berada dalam tuba fallopii tidak dibuahi. Non-disjunction hanya ditemukan terjadi pada oogenesis, sementara tidak pernah ada non-disjunction dalam spermatogenesis, karena spermatogenesis terjadi setiap hari dan tidak ada waktu penundaan spermatogenesis seperti halnya pada oogenesis. Akibat dari adanya trisomi 21 dalam zigot, kromosom penderita Down syndrome jenis ini mempunyai 47 kromosom (47,XX,+21 atau 47,XY,+21). (Suryo, 2005).

Jika pada trisomi 21 utuh karena non-disjunction mempengaruhi seluruh sel tubuh, pada kasus Down syndrome mosaik (46,XX/47,XX,+21),  terdapat sejumlah sel yang normal dan yang lainnya mempunyai mengalami trisomi 21. Kejadian ini dapat terjadi dengan dua cara: non-disjunction pada perkembangan sel awal pada embryo yang normal menyebabkan pemisahan sel dengan trisomi 21, atau embryo dengan Down syndrome mengalami non-disjunction dan beberapa sel embryo kembali kepada pengaturan kromosom normal. (Wikipedia, 2008).

Penderita Down syndrome translokasi mempunyai 46 kromosom t(14q21q). Setelah kromosom orang tua diselidiki, ternyata ayah normal, tetapi ibu hanya mempunyai 45 kromosom, termasuk satu autosom 21, satu autosom 14, dan satu autosom translokasi 14q21q. Ibu merupakan karier, sehingga normal walaupun kariotipenya 45,XX,t(14q21q). Perkawinan laki-laki normal (46,XY) dengan perempuan karier Down syndrome secara teoritis menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotip 2 normal : 1 Down syndrome. (Suryo, 2005). Pada Down syndrome translokasi, susunan kromosom tidak sesuai dengan susunan kromosom normal. Umumnya kromosom golongan D (13-15) hilang, tetapi muncul kromosom tambahan pada golongan C  (6-12), dan pada ibunya satu kromosom 21 juga hilang. (Emery, 1992).

Daerah 5 Mb diantara loci D21S58 dan D21S42 telah teridentifikasi mempunyai kaitan dengan retardasi mental dan sejumlah penampakan fisik penderita Down syndrome, yang lebih khusus, subregion yang didalamnya terdapat D21s55 dan MX1 (interferon-protein p58)─terletak di pita 21q22.3. Analisis lanjutan menunjukkan pada daerah 1.6-Mb diantara LA68 dan ERG di 21q22 sebagai Down Syndrome Critical Region (DSCR), terdiri dari DSCR 1,2,3, dan 4. DSCR1 terekspresikan dengan jelas pada otak dan jantung, dan diduga kuat terlibat dengan patogenesis Down syndrome khususnya dalam retardasi mental atau gangguan jantung. DSCR4 terekpresikan cukup jelas pada plasenta. Gen yang diatur oleh REST transcription factor (TF) dipilih secara selektif. Salah satu gen diantaranya, SCG10, yang mengkode protein spesifik untuk perkembangan neuron hampir tidak dapat dikenali. Sel Down syndrome menunjukkan penurunan aktifitas neurogenesis, dan pemendekan neurit serta perubahan abnormal pada morfologi neuron. Gen yang diatur oleh REST  mempunyai peran penting dalam perkembangan otak, kelenturan, dan formasi sinaps. (McKusick, 2008).

Tidak ada terapi medis yang tersedia bagi retardasi mental pada penderita Down syndrome, namun terdapat beberapa alternatif terapi lainnya yang meningkatkan harapan hidup bagi penderita Down syndrome, yang pada umumnya disertai beberapa penurunan fungsi organ atau fungsi tubuh. Hal yang dapat dilakukan pada penderita Down syndrome hanya berupa terapi penunjang, antara lain seperti konseling genetik, vaksinasi dan perawatan kesehatan, perawatan medis dan monitoring untuk pasien Down syndrome dewasa, terapi bedah bagi penyakit yang berkaitan, konsultasi (fisik, occupational therapy, terapi bicara). (Chen, 2007).

BAB III

PEMBAHASAN

DSCR (Down Syndrome Critical Region) merupakan daerah pada kromosom yang mempengaruhi fenotip dari penderita Down syndrome. Fenotip yang muncul berbeda-beda tergantung dari jenis Down syndrome itu sendiri. Pada kasus Down syndrome mosaik, misalnya, tidak keseluruhan fenotip Down syndrome muncul, seperti pada kasus trisomi 21 utuh.

Pada meiosis I, oosit primer yang diploid (2n) berusaha membelah menjadi oosit sekunder yang haploid (n). Seluruh kromosom membelah, namun terdapat satu autosom yang tidak membelah, yaitu autosom no. 21. Karena itu, dalam oosit sekunder yang kemudian akan membelah lagi menjadi ovum terdapat 2 autosom nomor 21, sehingga totalnya menjadi 24 kromosom (23 autosom, dan 1 gonosom─kromosom X). Sperma yang normal bersifat haploid (n), berjumlah 23 kromosom, (22 autosom dan 1 gonosom─kromosom Y). Sehingga individu dengan Down syndrome mempunyai total 47 kromosom termasuk 21 pasang autosom normal, sepasang gonosom normal, dan 3 kromosom pada autosom nomor 21. Pada Down syndrome trisomi 21, kebanyakan literatur menyebutkan tidak terjadi penurunan penyakit secara genetik dari orang tua kepada anak, karena umumnya fertilitas individu dengan Down syndrome rendah. Hanya 15-30% dari keseluruhan wanita penderita Down syndrome yang fertil. Namun beberapa literatur menyebutkan bahwa wanita dengan Down syndrome trisomi 21 berisiko menurunkan kelainan tersebut sebesar 50% kepada keturunannya. Berdasarkan hukum Mendel, hal ini memang benar. Namun, hukum Mendel hanya berlaku pada keadaan kromosom yang normal, sehingga pada kelainan kromosom hukum Mendel tidak dapat digunakan dengan cara yang sama seperti penerapan pada kromosom normal. Lagipula, secara logika, memang jarang sekali ada penderita Down syndrome yang menikah dan berkeluarga, karena umumnya penderita Down syndrome tersebut cukup sulit untuk mengurus diri sendiri, apalagi untuk mempunyai sebuah keluarga. Jadi dalam hal ini penulis berpendapat bahwa Down syndrome trisomi 21 tidak dapat diturunkan.

Pada Down syndrome mosaik  terjadi variasi fenotip, berbeda dengan Down syndrome trisomi 21 utuh (keseluruhan), tergantung pada variasi proporsi sel dengan trisomi 21 pada embryo dalam perkembangan awal kehamilan. Pada Down syndrome mosaik, kelainan ini tidak diturunkan, seperti halnya terjadi pada Down syndrome trisomi 21 utuh.

Pada Down syndrome translokasi, pertukaran material kromosom antara kromosom golongan D dengan kromosom 21 (golongan G) menyebabkan terbentuknya gamet yang membentuk 4 kemungkinan, yaitu normal, karier, individu dengan Down syndrome, dan lethal (G- monosomi). Down syndrome translokasi inilah yang merupakan penyakit herediter yang dapat diturunkan, yang terdapat dalam genotip walaupun fenotipnya normal, dalam hal ini disebut “karier”. Individu yang “karier” dapat menurunkan sifat ini kepada keturunannya. Karena itu, untuk pencegahannya, perlu konseling genetik sebelum memutuskan akan mengadakan konsepsi/kehamilan, apalagi apabila dalam sejarah kesehatan keluarga terdapat anggota keluarga yang mempunyai penyakit-penyakit tertentu yang sifatnya genetik.

Terapi pada penderita Down syndrome lebih mengacu kepada bagaimana penderita Down syndrome dapat hidup dengan kesehatan yang lebih baik dan bagaimana penderita Down syndrome dapat bersosialisasi dan hidup dalam masyarakat, agar dapat mandiri dan mengurangi ketergantungan kepada orang lain.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A.        Kesimpulan :

  1. Gen yang mempengaruhi penampakan fisik penderita Down syndrome adalah DSCR 1,2,3, dan 4.
  2. Down syndrome trisomi 21 dan mosaik tidak terkait faktor hereditas, sehingga tidak diturunkan.
  3. Down syndrome yang terkait faktor herediter adalah Down syndrome jenis translokasi.
  4. Terapi pada penderita Down syndrome lebih terkait dengan latihan kemandirian penderita Down syndrome dan perawatan kesehatan untuk meningkatkan harapan hidup penderita.

B.        Saran :

1.         Anak tersebut sebaiknya segera diberikan terapi bicara dan latihan fisik, sehingga tetap dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya serta belajar hidup dengan mandiri.

BAB V

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Down syndrome. Akses tanggal 12 November 2008, 16:34 di

http://en.wikipedia.org/wiki/down_syndrome

Chen, Harold. 2007. Down Syndrome. Akses tanggal 12 November 2008, 16:30 di

http://www.emedicine.com/ped/topic615.htm

Emery, Alan F.H. 1992. Dasar-Dasar Genetika Kedokteran. Yogyakarta: Yayasan Etensia Medika

McKusick, Victor A. 2008. Down Syndrome. Akses tanggal 12 November 2008, 17:03 di http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/dispomim.cgi?id=190685

Suryo. 2005. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Categories: Biomolekuler | Tags: , | Leave a comment