Posts Tagged With: metabolisme obat

Farmakoterapi TB dan Metabolisme Obat Berkaitan Dengan Ikterus

BAB I

PENDAHULUAN

A.        LATAR BELAKANG

Tiap organisme akan memberikan pengaruh yang tidak sama terhadap suatu obat. Di samping perbedaan genetik, juga harus disadari bahwa individu yang sakit tidak sama reaksinya terhadap obat dibandingkan individu yang sehat dan normal. Belum lagi pengaruh lain, misalnya interaksi dengan obat lain, makanan, lingkungan hidup sehari-hari yang kesemuanya ini dapat mempengaruhi absorpsi, distribusi, biotransformasi maupun ekskresi obat. (Widianto, 1985).

Berikut ini adalah permasalahan dalam skenario 3:

Ny. S, 30 tahun, sudah 3 hari dirawat di RS karena ikterus. Ny. S adalah seorang penderita penyakit paru yang mendapatkan terapi Rifampicin, Etambutol, Pyrazinamide, dan Isozianide dalam dosis standar yang diminum setiap pagi sebelum makan. Terapi ini sudah dilakukan sejak 3 bulan sebelum masuk RS. Hasil pemeriksaan SGOT 125 IU (normal 40 IU); SGPT 200 IU (normal 40 IU). Menurut Ny. S tetangganya juga menderita penyakit yang sama dan mendapatkan pengobatan yang sama, tetapi tidak mengalami gejala yang sama seperti dirinya. Bagaimana dengan terapi yang sudah ia terima, dihentikan atau dilanjutkan?

Dalam laporan ini, penulis mencoba menganalisis metabolisme obat dalam kaitannya dengan ikterus dan mencari korelasi diantara keduanya. Sehingga penulis memahami mekanisme metabolisme obat melalui kasus skenario.

B.        RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana konsep mekanisme metabolisme obat?
  2. Bagaimana mekanisme kerja obat?
  3. Apakah hubungan hasil pemeriksaan dengan ikterus dan metabolisme obat?
  4. Faktor apakah yang mempengaruhi pengaruh tubuh terhadap kerja obat?
  5. Bagaimana cara pencegahan dan penanganan dari timbulnya efek samping?

C.        TUJUAN PENULISAN

  1. Mengetahui konsep mekanisme metabolisme obat.
  2. Mengetahui mekanisme kerja obat.
  3. Mengetahui hubungan hasil pemeriksaan dengan ikterus dan metabolisme obat.
  4. Mengetahui faktor yang mempengaruhi pengaruh tubuh terhadap kerja obat.
  5. Mengetahui cara pencegahan dan penanganan dari timbulnya efek samping.

D.        MANFAAT PENULISAN

  • Mahasiswa mengetahui dasar teori metabolisme obat.
  • Mahasiswa mengetahui dasar pertimbangan farmakoterapi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.        Farmakokinetik dan Farmakodinamik

Farmakokinetik adalah nasib obat didalam tubuh, atau efek tubuh terhadap obat. Farmakonkinetik mencakup 4 proses, yaitu absorpsi (A), distribusi (D), metabolisme (M), dan ekskresi (E). Metabolisme obat terutama terjadi di hati, yaitu di membran endoplasmic reticulum (mikrosom) dan di cytosol. Tujuan metabolisme obat adalah mengubah obat yang nonpolar (larut lemak) menjadi polar (larut air) agar dapat diekskresi melalui ginjal atau empedu.

Obat menimbulkan efek melalui interaksi dengan reseptornya pada sel organisme. Reseptor obat merupakan komponen makromolekul fungsional; hal ini mencakup 2 konsep penting. Pertama, obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua, obat tidak menimbulkan fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada. (Ganiswara et.al., 2001).

B.        Hasil Pemeriksaan dan Manifestasi Klinis

Ikterus adalah penimbunan pigmen empedu dalam tubuh yang menyebabkan perubahan warna jaringan menjadi kuning. SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) dan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) adalah enzim intrasel yang terutama berada di jantung, hati, dan jaringan skeleton. (Dorland, 2002).

C.        Faktor Pengaruh Respon Tubuh Terhadap Kerja Obat

Adanya perbedaan kerja obat karena farmakogenetik disebabkan karena :

  1. Adanya perbedaan individual baik jumlah reseptor maupun affinitas obat untuk dapat terikat pada reseptor tersebut.
  2. Adanya perbedaan pola absorpsi, distribusi, biotransformasi maupun ekskresi obat, hingga dosis yang sama dapat menyebabkan berbedanya kadar obat dalam plasma pasien bersangkutan. Perbedaan genetik ini biasanya disebabkan polimorfismus enzim-enzim tertentu, di mana terbentuk isoenzim dengan aktivitas enzim yang berbeda.

Selain farmakogenetik, aspek farmakokinetik, makanan dan minuman, keadaan penyakit, dan kontak dengan senyawa kimia tertentu juga mempengaruhi perbedaan respon tubuh terhadap kerja obat yang berbeda terhadap masing-masing individu. (Widianto, 1985).

D.        Farmakoterapi

1.         Isoniazid (INH)

INH menghambat biosintesis asam mikolat yang merupakan unsur penting dinding sel mikobakterium. Di hati, INH terutama mengalami asetilasi, dan pada manusia kecepatan metabolisme ini dipengaruhi oleh faktor genetik. INH dapat menimbulkan ikterus dan kerusakan hati yang fatal akibat terjadinya nekrosis multilobular. Penderita yang mendapat INH hendaknya selalu diamati dan dinilai kemungkinan adanya gejala hepatitis, kalau perlu dilakukan pemeriksaan SGOT. Efek nonterapi INH dapat dicegah dengan pemberian piridoksin dan pengawasan yang cermat. Untuk tujuan terapi, INH harus diberikan dengan obat lain. Untuk pencegahan, dapat diberikan tunggal.

2.         Rifampicin

Rifampicin aktif terhadap sel yang bertumbuh. Kerjanya menghambat DNA-dependent RNA polymerase dari mikobakteria dan  mikroorganisme lain. Rifampicin jarang menimbulkan efek nonterapi, namun pada penderita penyakit hati kronik, alkoholisme, dan usia lanjut insidensi ikterus bertambah. Rifampicin tampaknya meningkatkan hepatotoksisitas INH terutama pada asetilator lambat. (Ganiswara, et.al, 2001).

Efek sampingnya yang terpenting tetapi tidak sering terjadi adalah penyakit kuning (icterus), terutama bila dikombinasikan dengan INH yang juga agak toksis bagi hati. Pada penggunaan lama, dianjurkan untuk memantau fungsi hati secara periodik. Obat ini agak sering juga menyebabkan gangguan saluran cerna seperti mual, muntah, sakit ulu hati, kejang perut dan diare, begitu pula gejala gangguan SSP dan reaksi hipersensitasi (Tjay, 2003)

3.         Etambutol

Etambutol jarang menimbulkan efek samping. Jika ada efek nonterapi, biasanya berupa gangguan penglihatan, dan peningkatan kadar asam urat darah. Efek nonterapi ini mungkin diperkuat oleh INH dan piridoksin.

4.         Pirazinamid

Efek samping yang paling umum dan serius adalah kelainan hati. Gejala pertama adalah peningkatan SGOT dan SGPT. Jika jelas timbul kerusakan hati, terapi dengan pirazinamid harus dihentikan. (Ganiswara et.al., 2001).

BAB III

PEMBAHASAN

Obat yang masuk ke dalam tubuh harus melalui proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Setelah mengalami absorpsi dan distribusi, obat disalurkan dalam sel dengan melalui reseptor obat. Adanya perbedaan kerja reseptor dapat mempengaruhi metabolisme obat.

Pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT dalam darah berfungsi sebagai indikator berbagai penyakit. Pada intinya, enzim-enzim tersebut (oksaloasetat dan piruvat transaminase) sulit masuk ke jaringan, sehingga tertimbun di dalam peredaran darah.

Ikterus terjadi akibat paduan terapi berbagai obat TB primer. INH mempunyai efek samping ikterus. Rifampicin dapat menimbulkan ikterus apabila dikombinasikan dengan INH yang bersifat agak hepatotoksis, walaupun jarang terjadi. Sedangkan etambutol mempunyai efek nonterapi yang diperkuat oleh INH dan piridoksin. Pirazinamid dapat menimbulkan gangguan hati. Secara umum, semua obat TB primer efektif dalam mengahambat bakteri TB, namun bersifat hepatotoksis.

Pada kasus diatas, permasalahan terdapat pada proses farmakokinetik obat pada masing-masing individu. Walaupun dosis Ny. S dengan tetangganya sama, namun respon tubuh dapat berbeda, dikarenakan penyerapan, distribusi, metabolisme, dan ekskresinya tidak sama. Adanya perbedaan ini dapat dikarenakan perbedaan polimorfisme genetik, sehingga akibatnya respon tubuh juga akan berbeda. Ny. S mengalami ikterus, sedangkan tetangganya tidak.

Penatalaksanaan pasien yang mengalami efek nonterapi (efek samping), sebaiknya dimulai dengan menangani efek samping tersebut. Obat yang digunakan mungkin dapat digantikan dengan obat lain yang sejenis. Untuk pirazinamid, jika terbukti terjadi kerusakan hati, maka harus dihentikan penggunaannya. Kedua efek (efek terapi dan efek nonterapi) masing-masing harus dipertimbangkan. Jika memang manfaat (keuntungannya) lebih banyak dibandingkan kerugiannya, maka terapi dapat diteruskan. Pengobatan dapat diteruskan dengan memperhitungkan toksisitas hati dan efek terapi.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A.        Kesimpulan

  1. Obat dalam tubuh mengalami proses absorpsi (A), distribusi (D), metabolisme/biotransformasi (M), dan ekskresi (E).
  2. Ikterus merupakan efek samping yang timbul dari penggunaan paduan obat TB primer yang digunakan dalam terapi.
  3. Faktor farmakogenetik, farmakokinetik, makanan dan minuman, keadaan penyakit, dan kontak dengan senyawa kimia tertentu mempengaruhi perbedaan respon tubuh terhadap kerja obat
  4. Pada dasarnya obat TB primer yang digunakan sangat efektif menghambat bakteri TB, namun bersifat hepatotoksis, sehingga penggunaannya harus didasarkan pada kondisi penderita.

B.        Saran

Tidak semua terapi obat harus dihentikan, mungkin yang perlu dihentikan hanya pirazinamid, dan mungkin dapat diberikan obat pengganti pirazinamid. Penatalaksanaannya dapat berupa penanganan efek samping, dan mempertimbangkan keadaan penderita. Sehingga terapi mendatangkan keuntungan yang lebih besar daripada kerugiannya.

.

DAFTAR PUSTAKA

Dorland, W.A Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta: EGC.

Ganiswara,  Sulistia G. Setiabudi, Rianto. Suyatna, Frans D. Purwantyastuti. Nafrialdi. 2001. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Jakarta: FKUI.

Widianto, Mathilda B. 1985. Bagaimana Pengaruh Tubuh Terhadap Obat. Bandung: Cermin Dunia Kedokteran.

Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2003. Obat-obat Penting Edisi V. Jakarta: Gramedia., dari artikel Rifampicin, 2008, diakses   dalam http://farmasi.site88.net/2008/08/rifampicin/

Categories: Metabolisme | Tags: , | Leave a comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.